Tatas Hardo Panintingjati Brotosudarmo

Anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI)

Sains Versus Saintisme

1 November 2021

Dibaca Normal 16 menit

Ruang Saintisme
Hingga 6 Juli 2021, Covid-19 di Indonesia telah mencapai 2.345.018 kasus dengan rasio kasus warga terpapar virus corona atau positivity rate sebesar 17%, tingkat capaian vaksinasi dosis pertama sebesar 18,44%, dan capaian vaksinasi dosis kedua sebesar 7,9% dari total target vaksinasi 70%. Hal ini menunjukkan tingginya kasus Covid-19 di Indonesia dan masih rendahnya cakupan vaksinasi. Selain itu, adanya serbuan varian Delta di Indonesia meningkatkan risiko infeksi Covid-19 pada masyarakat.
Pemerintah berupaya keras untuk menangani pandemi Covid-19 di Indonesia. Dalam upaya tersebut, sebelumnya pemerintah menyadari bahwa integrasi data menjadi hal krusial yang dapat dijadikan landasan pembuatan kebijakan menangani pandemi.[3] Hal tersebut diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka pada Rabu, 24 Juni 2020 demikian:
“Dengan sistem informasi yang terintegrasi tadi, kita memiliki data-data. Setiap kebijakan-kebijakan yang kita lakukan selalu berdasarkan pada data sains. Selalu juga meminta saran kepada para ahli ilmu pengetahuan.”[4]
Menurut Anda, apakah kebijakan dan tindakan Presiden Joko Widodo tersebut merupakan bentuk dari saintisme? Bagaimana bila dibandingkan dengan pernyataan sambutan Perdana Menteri India, Jawaharlal Nehru, pada tahun 1960 yang dicatat di dalam Proceedings of the National Institute of Science of India Volume 27 sebagai berikut:
It is science alone that can solve the problem of hunger and poverty, of insanitation and illiteracy, of superstition and deadening custom and tradition, of vast resources running to waste, of a rich country inhabited by starving people … Who indeed could afford to ignore science today? At every turn we seek its aid… The future belongs to science and to those who make friends with science. [5]
Dalam komunitas para ilmuwan sendiri, kata “saintisme” sebenarnya masih cukup asing.[6] Akhiran “-isme” ini masih mudah diasosiasikan dengan kata yang lain seperti materialisme, naturalisme, dan empirisme. Ilmuwan melakukan aktivitas ilmiahnya untuk terus berusaha menjelajahi dunia alam semesta dengan menggunakan metode yang mapan dan desain penelitian yang baku. Mengingat kompleksitas alam semesta, dari yang sangat besar hingga yang sangat kecil dan dari anorganik hingga organik, maka terdapat banyak sekali disiplin ilmu dengan teknik spesifiknya sendiri. Jumlah spesialisasi yang sangat berbeda tersebut terus meningkat, yaitu yang cenderung mengarah pada pertanyaan dan bidang eksplorasi daripada sebelumnya. Bukan menjadi suatu yang mengherankan apabila penelitian di bidang tertentu harus digarap secara interdisipliner, biasanya oleh lebih dari empat peneliti lintas disiplin ilmu yang tidak hanya berlatarbelakang ilmu alam, eksakta, tetapi bahkan juga melibatkan ilmu sosial.
Memercayai atau meyakini sains,[7] khususnya ilmu alam, sebagai wawasan yang paling utama, bahkan sebagai kebenaran otoritatif atas realitas alam semesta agaknya lebih dari sekadar merayakan pencapaian sains dalam mengenali berbagai jenis fenomena dalam dunia alam semesta. Namun, pandangan dan kepercayaan itu ternyata ada, walaupun berdasarkan sains sendiri pandangan tersebut telah memasuki dunia nonsaintifik. Beberapa kritik di kalangan ilmuwan pun dilontarkan kepada pihak-pihak yang menganut saintisme, yakni saintisme sebagai suatu “kebirahian”[8] dengan sains tanpa pengenalan utuh terhadap realitas aktivitas sains sendiri. Di sisi lain, para ilmuwan sains juga mengamati gejala saintisme yang telah memengaruhi sains itu sendiri dalam memahami fenomena alam, namun secara reduktif. 
Tulisan ini tidak akan banyak membahas aspek skolastik, misalnya terkait subjek epistemik dalam sejarah filsafat terkait bagaimana pengetahuan tersebut dihasilkan, namun lebih pada aspek praktis. Penulis juga membatasi hanya di bidang kajian yang penulis dalami, yaitu terkait dengan kimia biologi dan bidang terkait. Tulisan ini terbagi menjadi empat babak yang dimulai dengan beberapa hal mengenai saintisme di lingkungan cendekiawan. Selanjutnya, penulis membahas bagaimana prinsip atau proses riset yang pada umumnya dilakukan oleh ilmuwan ilmu alam (sains) dalam menghasilkan pengetahuan. Babak ketiga penulis memaparkan argumen para pendukung saintisme yang menjangkarkan diri pada positivisme logis. Pada bahasan terakhir, kita beralih menuju saintisme yang telah mempengaruhi atau diaplikasikan di dunia medis. Berdasarkan penjabaran di atas, penulis dapat menarik suatu kesimpulan bahwa sains berbeda dari saintisme.
Mengenal Proses Kerja Ilmiah dalam Komunitas Sains
Pengetahuan dalam ilmu alam tidak berada di “luar sana” (di alam), namun dihasilkan oleh aktivitas ilmiah manusia, termasuk aktivitas riset. Proses yang terjadi tidak linier, namun umumnya berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Tidak semua pengetahuan sains melibatkan eksperimen-eksperimen yang terkontrol, misalnya dalam lingkup laboratorium, namun yang pasti memiliki parameter tertentu. Pengetahuan sains yang merupakan hasil riset bersifat tentatif. Suatu pernyataan dianggap benar, secara prinsip, apabila ketika membuktikan argumen tersebut lulus uji, dan setiap orang meyakininya.[9] Pernyataan tersebut biasanya merupakan perkiraan, atau berdasarkan nilai perkiraan dengan memperhatikan rentang deviasi atau rentang kepastian. Terkadang perkiraan-perkiraan tersebut memiliki tingkat kepastian yang tinggi dan dikatakan dapat diandalkan (reliable), sehingga seseorang berpikir bahwa dia telah menemukan sesuatu yang sangat penting. Dalam statistika tersebut, nilai perkiraan atau pernyataan yang memiliki nilai perkiraan tinggi disebut sebagai “benar” atau “bermanfaat” dan hanya merupakan suatu perdebatan terminologi. Kata “dapat diandalkan” inilah yang kerap kali abu-abu, khususnya apabila digunakan dalam ranah politik. Contohnya terdapat dalam pernyataan berikut: “Vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Pfizer Inc dengan BioNTech SE dan Moderna Inc mengurangi risiko infeksi hingga 80% dalam dua minggu atau lebih setelah suntikan pertama dari dua suntikan.” Apabila Anda seorang ilmuwan sains dan membaca pernyataan tersebut, tentunya Anda akan memikirkan aspek besaran populasi sampel yang digunakan untuk menguji nilai efikasi, metode uji dan statistika yang digunakan, serta tingkat deviasi atau tingkat kepercayaan. Namun, untuk keperluan masyarakat umum, nilai gelondongan tersebut mungkin sudah cukup bermanfaat menenangkan kondisi genting saat ini.
Di paragraf sebelumnya terdapat kata “populasi” yang mengingatkan kita pada Teori Evolusi. Mari melihat contoh kasus dalam sejarah teori ini terbentuk. Pada mulanya, teori evolusi diusulkan oleh dua orang, yaitu Alfred Russel Wallace dan Charles Darwin. Saya menempatkan nama Wallace di posisi pertama, karena kebanyakan orang selalu merujuk pada Darwin. Padahal, secara urutan waktu Wallace-lah yang pertama kali berhasil menarik kesimpulan mengenai evolusi dari observasinya di Pulau Ternate, Maluku Utara. Sebelumnya, Wallace menuliskan idenya dalam terbitan berjudul On the Law Which Has Regulated the Introduction of New Species dari Sarawak, Kalimantan pada 1855. Setelah ia pindah ke Ternate, ia mengamati banyak spesies hewan dan tanaman yang menggugah pikirannya. Dari pengamatannya ini, ia menarik suatu hipotesis dan menuliskannya dalam sebuah manuskrip berjudul On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type. Alih-alih menerbitkan manuskrip tersebut, Wallace memilih untuk mengirimkan ke Down House di Kent, tempat Darwin tinggal. Tanggal 18 Juni 1858, saat Darwin membuka kotak surat dan membaca manuskrip Wallace, dia lemas dan panik karena sejak selesainya ekspedisi H.M.S. Beagle tahun 1836, Darwin belum berhasil memecahkan teka-teki ide seleksi alam dari semua spesimen yang dia angkut dan terpapar di rumahnya.
Sebenarnya, ide seleksi alam bukanlah ide orisinal Wallace dan Darwin. Ide yang menggemparkan seluruh Kerajaan Inggris Raya[10] tersebut berhasil dicetuskan melalui tulisan seorang jurnalis bernama Robert Chambers pada 1811.[11] Ide tersebut bersifat spekulatif, namun menggugah pikiran, dan dapat ditemukan dalam buku berjudul The Vestige of the Natural History of Creation. Surat dan manuskrip juga dibaca oleh sahabat Darwin, yaitu Sir Charles Lyell dan Joseph Hooker, yang seharusnya mempresentasikan hasil penemuan mereka terkait dengan seleksi alam di pertemuan Himpunan Linnean pada tanggal 1 Juli. Akhirnya, Lyell dan Hooker, bersepakat untuk mendukung klaim Darwin terhadap teori tersebut sebagai prioritas utama, tanpa mengkompromikan temuan Wallace. Tanpa sepengetahuan Wallace, mereka mempresentasikan hasil hipotesis kasar dari Darwin dan manuskrip Wallace tanggal 1 Juli di hadapan dewan Himpunan Linnean. Setelah itu cepat-cepat Darwin mengembangkan dan menuliskan idenya serta memublikasikan dalam bentuk buku yang kita kenal berjudul On the Origin of Species by Means of Natural Selection pada 24 November 1859.
Proses Kerja Ilmiah: Saling Memengaruhi
Pemikiran Wallace dan Darwin tersebut telah memengaruhi wajah sains modern mengenai proses bagaimana pengetahuan dihasilkan. Saat ini ilmuwan menggunakan berbagai metode, baik pengambilan data, pengolahan data, penarikan simpulan, serta penyusunan hipotesis ke depan. Berbagai metode, seperti misalnya riset eksperimental, riset observasional, riset komparatif, modeling, dan sebagainya. Kombinasi berbagai metode pun dilakukan misalnya historis deskriptif dan eksperimental serta observasional hipotetik, di mana masing-masing memiliki metodologinya yang spesifik.
Berbeda dengan Wallace yang berangkat dari induktif berdasarkan data pengamatan spesies, Darwin agaknya berangkat terlebih dulu dari hipotesis-hipotesis umum yang telah berkembang, termasuk hipotesis yang terbentuk dari bidang sosial humaniora. Saat merumuskan teori tersebut, Darwin telah terpengaruh oleh, atau mengambil presuposisi berdasarkan, filsafat humaniora yang berkembang di abad ke-17 yang terdapat dalam pemikiran Hobbes dan Malthus. Thomas Hobbes dalam Leviathan (1651) menggambarkan hipotesis keadaan alam sebagai salah satu pertempuran konstan orang lawan orang, sementara pemikiran Thomas Malthus dalam An Essay on the Principle of Population (1798) merupakan salah satu karya yang memengaruhi dunia politik dan ekonomi. Hasilnya, teori yang dikemukakan oleh Darwin inilah yang mengambil perhatian dari berbagai kalangan komunitas ilmu.
Dengan menggunakan hipotesis yang diangkat dari filsafat humaniora, Darwin masuk ke dalam perbandingan spesies satu dengan spesies lain dalam aspek-aspek morfologi yang tampak, lalu diamati dari spesimen yang ada. Kemudian, ia menengok kembali hipotesis-hipotesis yang telah berkembang tersebut, mengaitkan, dan menyintesis ide baru. Kita dapat membandingkan keadaan kerja Darwin dan Wallace lebih mendetail saat teori evolusi terbentuk. Darwin melakukan proses tersebut di rumahnya di Down House, Kent dengan berbagai spesimen yang terpapar di hadapannya sedangkan, keadaan kerja Wallace langsung berada di hutan dengan segala kejadian yang berlangsung dan juga dari hewan-hewan yang telah dikeringkan menjadi spesimen. Dari keadaan kerja tersebut tampak bahwa Wallace dan Darwin memang mengungkapkan ide yang berbeda mengenai diversitas dan adaptasi spesies terhadap lingkungan. Contohnya, Wallace menekankan perbedaan antara hewan peliharaan dan hewan alami. Hewan peliharaan, bagi Wallace, tidak dapat dijadikan sebagai model untuk mempelajari perilaku hewan yang asli, sedangkan Darwin menekankan pada aspek persamaan antara hewan peliharaan dan alami tersebut dalam konstruksi argumennya. Contoh lainnya, Wallace menekankan bahwa kompetisi binatang yang terjadi di alam adalah antara satu spesies dengan spesies lain yang berbeda atau satu spesies bertahan hidup terhadap spesies lain yang menjadi predator, sedangkan Darwin menekankan bahwa kompetisi tersebut telah terjadi dalam spesies yang sama, yakni individu terhadap individu lainnya.
Positivisme Logis sebagai Akar Saintisme[12]
Tom Sorell, seorang ahli filsafat sains, menarik benang merah akar saintisme yang mana sudah terpercik mulai dari Descartes (1596-1650) dan Francis Bacon (1561-1626), khususnya terkait dengan rasio, sains, dan penalaran ilmiah.[13] Namun, dalam tulisan ini saya merujuk pada buku Scientism: Prospects and Problems (disunting oleh Jeroen de Ridder, Rik Peels, dan René van Woudenberg) yang merunut akar saintisme dari abad ke-17, yaitu abad terjadinya modernisasi.
Sains telah meninggalkan jejak di berbagai aspek di dunia, seperti pada berbagai artefak teknologi seperti komputer dan bom; pada berbagai institusi-institusi penting seperti rumah sakit, media massa, pendidikan dan ketentaraan; pada berbagai sarana fisik manusia seperti jalan raya, gedung; demikian juga sungai yang tercemar dan hutan yang gundul. Dulu matahari menjadi pusat, kemudian beralih menjadi geosentris, dan sekarang kita berpikir dalam koridor bahwa tubuh biologis kita terdiri dari sel yang tidak terhitung dan kompleks. Cakrawala resolusi pengamatan manusia terhadap dunia mikro pada 2021 ini tidak hanya dalam satuan meter, namun dalam Angström (1´10-10 meter).[14] Sains dikatakan telah mematahkan hukum Bragg tentang difraksi cahaya tampak. Singkat kata, atom telah berhasil diamati secara “kasat mata”.
Kesuksesan sains yang nampak tersebut telah menginspirasi banyak filsuf, ilmuwan, pembuat kebijakan, dan menjadi kosakata umum dalam pembicaraan di emperan jalan. Gemerlap saintisme sebenarnya dapat kita temukan di beberapa potongan-potongan kutipan pernyataan dari banyak filsuf terkenal. Sebagai contoh, David Hume, Auguste Comte, dan filsuf-filsuf positivisme logis. Sebagai contoh pernyataan dari David Hume (1711-1776) berikut di dalam Enquiry Concerning Human Understanding:
When we run over libraries, persuaded of these principles, what havoc must we make? If we take in our hand any volume; of divinity or school metaphysics, for instance; let us ask: Does it contain any abstract reasoning concerning quantity or number? No. Does it contain any experimental reasoning concerning matter of fact and existence? No. Commit it to the flames: for it can contain nothing but sophistry and illusion.[15]
Walaupun sebenarnya Hume sama sekali tidak mengadvokasi saintisme, karena dalam karyanya ini sangat kuat pada skeptisisme, namun kutipan di atas telah mengandung sebagian dari jiwa yang merujuk pada saintisme. Lebih jauh lagi jejak saintisme terlihat jelas dalam karya filsuf Perancis, Auguste Comte (1798-1857), yang merumuskan Hukum Tiga Tahapan:
The law is this: that each of our leading conceptions each branch of knowledge passes through three different theoretical conditions: the Theological, or fictitious; the Metaphysical, or abstract; and the Scientific, or positive.[16]
Berdasarkan pernyataan di atas, Comte menyatakan bahwa tahap pertama adalah teologi, yaitu tahapan di mana manusia, dalam pencarian penyebab awal dan akhir, menjelaskan alam semesta dan konstituennya berdasarkan agen supernatural. Tahap awal ini merupakan tahapan yang perlu dari perkembangan kognitif manusia yang kemudian berkembang ke tahapan metafisika, di mana penyebab supernatural digantikan dengan “kekuatan abstrak” sebagai bentuk yang melaksanakan fungsi. Pada tahap kedua ini merupakan suatu transisi ketika pikiran manusia tidak dapat melompat langsung dari modus pikir teologi ke modus pikir positif. Pada tahap ketiga, yaitu tahap positif, Comte menjelaskan bahwa hal ini merupakan tahap di mana manusia menyadari bahwa terdapat hukum-hukum yang mengatur, baik alam semesta maupun perilaku manusia, dan hukum-hukum tersebut dapat ditemukan melalui observasi dan pemikiran. Pada tahap inilah dipercaya bahwa sains menjadi kunci utama dari usaha kognitif manusia. Comte mengakui bahwa terdapat suatu hierarki dalam sains sendiri, dari matematika, sebagai sains yang paling sempurna, hingga astronomi, fisika bumi, kimia, dan fisiologi. Comte berpendapat bahwa fisiologi adalah fondasi dari sosiologi, yang mempelajari struktur sosial, yang melaluinya dia percaya manusia dari berbagai peradaban dapat menyelamatkan dirinya dari krisis yang terjadi.
Karya Comte tersebut menganimasi semangat saintisme. Pada tahap berikut dari cikal bakal saintisme adalah gerakan positivisme logis yang terkait dengan Vienna Circle yang dimulai tahun 1920-an. Beberapa tokoh terkenal misalnya adalah Moritz Schlick, Rudolf Carnap, Hans Hahn, dan Felix Kaufmann. Para penganut positivisme logis membuat suatu pembedaan antara dua kelas dari proposisi utama, yang ada bekas kaitan dengan kutipan Hume di atas. Pertama, terdapat proposisi faktual yang merupakan ciri utama bahwa mereka dapat diverifikasi secara empirik. Kedua, terdapat proposisi formal (logis dan matematis) yang merupakan ciri utama bahwa mereka adalah “tautologis” dalam arti pernyataan tersebut benar berdasarkan makna yang menyusunnya, bukan berdasarkan caranya.
Semangat positivisme logis tersebut sangat kuat tampak pada pandangan, khususnya terkait pada anti-metafisika dan antiteologi, dari tokoh-tokoh advokat saintisme seperti James Ladyman, Don Ross, dan David Spurrett yang mengemukakan ide mereka dalam buku Every Thing Must Go: Metaphysics Naturalized.
Argumen Pendukung Saintisme
Apa saja argumen-argumen yang biasanya diajukan oleh para pendukung saintisme? Rik Peels mengemukakan 10 alasan, mengapa seseorang memeluk saintisme:[17]
  1. Kesuksesan sains;
  2. Aplikasi sains di berbagai bidang;
  3. Keyakinan berdasarkan sains dapat diuji atau dikuatkan;
  4. Banyak hasil ilmiah yang kontraintuitif;
  5. Sains memiliki mekanisme keamanan;
  6. Kita memahami asal-usul pengetahuan ilmiah;
  7. Keyakinan pada common sense menunjukkan ketidaksepakatan yang luas;
  8. Sains memberikan penjelasan yang menyangkal common sense;
  9. Sains menunjukkan common sense dipenuhi dengan bias;
  10. Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa banyak keyakinan common sense adalah ilusi.
Untuk memahami lebih lengkap kesepuluh pokok argumentasi pendukung saintisme, penulis menganjurkan pembaca mengunjungi jurnal yang ditunjukkan di catatan kaki. Tulisan ini lebih menyoroti pada pokok pertama, yaitu keberhasilan sains. Keberhasilan sains bukan berarti keberhasilan dari suatu institusi riset tertentu, atau bahwa para ilmuwan berhasil menemukan ini dan itu serta berhasil memublikasikan temuan yang luar biasa banyak. Namun, keberhasilan dalam arti bahwa sains secara epistemologi sukses. Seorang pendukung saintisme mengeklaim bahwa praktik metodologis ini tidak hanya membuat sains berhasil tetapi juga membuatnya lebih unggul dibandingkan dengan bentuk-bentuk penyelidikan lainnya.[18] Jadi, sains sukses dalam menyingkap dan membentuk berbagai kebenaran tentang dunia dan diri kita. Sains telah menghasilkan banyak klaim, teori, model, penjelasan, dan prediksi yang memiliki status epistemik positif yang signifikan. Berdasarkan itulah mereka dibenarkan, benar, atau cukup secara empiris. Kemudian, biasanya klaim-klaim sains tersebut telah diuji secara sahih, bertahan melalui pelbagai eksperimen uji, dan didukung oleh bukti-bukti yang kuat, serta runtut koheren dengan hasil-hasil riset lain. Argumen yang lebih dari itu, misalnya, bahwa sains memiliki rekam jejak dalam penemuan dan pembentukan kebenaran dibandingkan dengan metode lain yang dikembangkan manusia, seperti mengandalkan pancaindra, percaya pada agama atau otoritas lain, suatu penalaran apriori, dan sebagainya.
Hitanen menyatakan bahwa jika saintisme ingin masuk akal, ia harus membuat klaim yang jauh lebih sederhana, seperti klaim bahwa sumber keyakinan nonilmiah tertentu, seperti pembentukan keyakinan tentang alasan seseorang untuk melakukan tindakan masa lalu, tidak cukup andal untuk dihitung sebagai pengetahuan; atau klaim bahwa ilmu pengetahuan alam lebih dapat diandalkan dalam menuntun kita menuju pengetahuan daripada beberapa sumber kepercayaan nonilmiah kita; atau bahwa pelepasan ilmu pengetahuan alam lebih rasional untuk dipercaya daripada pelepasan beberapa sumber pengetahuan nonilmiah kita.[19]
Saintisme Medis: Praktik Baik atau Kekeliruan Fatal?[20]
Pada bahasan berikut ini kita beralih menuju saintisme yang telah mempengaruhi atau diaplikasikan di dunia medis. Dikutip dari Journal of the Royal Society of Medicine, J.M. Leggett mengemukakan bahwa saintisme medis dimengerti sebagai suatu pendekatan praktik medis yang berkenaan dengan pemahaman ilmiah tentang penyakit sebagai satu-satunya isu yang relevan, sementara mengabaikan lain faktor. Terdapat dua bentuk saintisme medis: (1) tidak ada yang relevan di luar dari proses penyakit; (2) tidak ada yang relevan di luar dari evaluasi saintifik penyakit.
Bagaimanakah saintisme tersebut sebenarnya memengaruhi praktik medis? Untuk mengenali pengaruh saintisme terhadap praktik medis, kita perlu memahami hubungan antara pasien, dokter, penyakit, serta manajemen investigasinya. Sifat atau karakteristik hubungan antara pasien dan penyakit, menurut Leggett cukup sulit untuk didefinisikan. Frank Stansfield, seorang ahli anatomi, sering mengajukan pertanyaan seperti berikut: “Apa hubungan arteri tiroid inferior dengan saraf laringeus rekuren?” Jawaban yang diberikan biasanya adalah “bervariasi, tetapi selalu berhubungan dekat.” Secara tradisional terdapat suatu penerimaan kebutuhan yang berbeda dari satu pasien dengan pasien lain terhadap suatu penyakit. Namun demikian, dampak saintisme menyebabkan hubungan antara pasien dan penyakit semakin renggang. Di sisi lain, terdapat kecenderungan dokter hanya terfokus pada penyakit, sehingga hubungan antara dokter dan penyakit yang semakin kuat dalam rangka manajemen investigasi penyakit itu sendiri.
Jika individualitas pasien ini ditolak, maka manajemen menjadi hanya bergantung pada keadaan penyakit tersebut. Beberapa ahli berpendapat bahwa perlakuan tertentu di mana secara statistik menunjukan hasil luaran yang baik, maka manajemen inilah yang dianggap sesuai untuk semua pasien dengan kondisi tersebut. Penanganan seperti ini dipandang mengabaikan konteks di mana kondisi-kondisi tersebut muncul. Jika kita menerima faktor-faktor luar itu memiliki pengaruh pada proses penyakit, misalnya umur, kondisi umum kesehatan, kondisi psikologis, maka suatu kondisi bisa dikelola dengan benar dengan rangkaian pilihan lengkap pengobatan dari yang paling radikal hingga tidak ada sama sekali. Sebagai contoh, manajemen yang benar dari suatu karsinoma laring yang besar dapat dilakukan laryngectomy, tetapi bila pasien demensia dan umur sangat tua maka operasi ini akan menunjukkan kontraindikasi. Keuntungan dari melepaskan hubungan antara pasien dan penyakit adalah bahwa variabel yang sulit dihilangkan. Prosedur ini adalah prasyarat untuk penyusunan protokol yang ketat tetapi dapat menyebabkan praktik penanganan pasien yang buruk.
Neuropsychiatric disorder: Saintisme vs. Skeptisisme vs. Pendekatan Terintegrasi[21]
Dalam beberapa dekade terakhir, telah terjadi pergeseran dari penyakit menular ke penyakit tidak menular di seluruh dunia. Gangguan mental, neurologis, dan gangguan penggunaan obat sudah menjadi penyumbang terbesar beban penyakit. Gangguan yang lazim, kronis, dan mahal ini sekarang menyumbang 22% dari tahun kehidupan yang disesuaikan dengan kecacatan (Disability-adjusted life years, DALYs) dari semua penyebab medis pada mereka yang berusia 15‒49 tahun.[22] Penyakit-penyakit neuropsikiatri, seperti skizofrenia, depresi, dan autisme, menjadi beban besar bagi masyarakat, mengganggu kesehatan mereka yang terkena, serta kemampuan mereka untuk belajar dan bekerja.
Di satu sisi telah setengah abad upaya bersama para peneliti membuat kemajuan dalam mendefinisikan dasar biologis penyakit ini. Kemajuan teknologi di bidang genomik dan studi skala besar, serta pengembangan model hewan baru, meningkatkan pemahaman kita tentang penyakit ini dan menawarkan prospek pilihan pengobatan yang berbeda secara mendasar. Di sisi yang lain, gangguan neuropsikiatri ini merupakan bidang yang sangat kompleks. Jacob dan Patel telah mengemukakan bahwa kesehatan mental global membutuhkan pendekatan diagnostik baru, pandangan yang mungkin sebagian konsisten dengan upaya dalam ilmu saraf klinis untuk merumuskan kembali pendekatan untuk evaluasi gangguan neuropsikiatri.[23] Menurut Cuthbert dan Insel, sistem diagnostik saat ini bergantung pada penyajian tanda-tanda dan gejala, dengan hasil bahwa definisi saat ini tidak cukup mencerminkan sistem neurobiologis dan perilaku yang relevan ―menghambat― tidak hanya penelitian tentang etiologi[24] dan patofisiologi,[25] tetapi juga pengembangan pengobatan baru.[26]
Dalam artikel Beyond Scientism and Skepticism, Stein dan Illes berusaha untuk mengidentifikasi pendekatan saintisme dan skeptisme. Selanjutnya, mereka mengusulkan pendekatan terintegrasi mengenai penanganan penyakit gangguan mental ini. Identifikasi dari pendekatan saintisme dan skeptisme dikelompokkan berdasarkan parameter diagnosis, patogenesis, dan intervensi. Diagnosis merupakan identifikasi sifat penyakit atau masalah lain dengan pemeriksaan gejala. Sedangkan, patogenesis adalah proses berkembangnya penyakit atau kelainan, yang meliputi faktor-faktor yang berkontribusi tidak hanya pada timbulnya penyakit atau gangguan, tetapi juga untuk perkembangan dan pemeliharaannya. Kemudian intervensi merupakan tindakan atau upaya-upaya penanganannya baik pada aspek mikro dan aspek makro.
Pendekatan saintisme dalam diagnosis merujuk sistem diagnostik yang bertumpu pada kategori-kategori esensial atau alami, di mana sistem penilaian (assessment) hanya bertumpu pada data endofenotipe. Data endofenotipe berarti sifat biologis kuantitatif yang dapat diandalkan dalam mencerminkan fungsi sistem biologis diskrit dan cukup dapat diwariskan, dan karena itu lebih erat terkait dengan akar penyebab penyakit daripada fenotipe klinis yang luas. Dalam kaitannya dengan patogenesis, saintisme dapat mendekati kausalitas dalam cakupan hukum (hukum ilmiah), cenderung fokus pada pada satu set asosiasi. Intervensi yang dilakukan, pada pendekatan saintisme, juga hanya fokus pada satu jenis intervensi (either-or), fokus pada biologis atau komunitas, yang menarget langsung esensi dari penyakit atau kelainan.
Pendekatan skeptisisme dalam diagnosis merujuk pada bahwa penyakit mental diekspresikan dan dialami secara berbeda dalam konteks sosiokultural yang berbeda. Gejala bervariasi dari waktu ke waktu dan tempat ke tempat. Dalam kaitannya dengan patogenesis, pendekatan skeptisisme mungkin menekankan peran nilai dan kekuatan sosiokultural dalam penjelasannya, serta mungkin fokusnya terletak pada perbedaan dalam konseptualisasi gangguan di seluruh sejarah dan geografi. Sedangkan, tindakan intervensi yang dilakukan menekankan nilai-nilai lokal dan kekuatan-kekuatan lokal. Misalnya, intervensi yang berfokus pada biologis dan komunitas memperkuat struktur sosial yang ada.
Menurut Stein dan Illes, gangguan mental ini perlu didekati secara terintegrasi untuk menghindari reduksionisme yang terjadi di saintisme dan skeptisisme. Dalam hal diagnosis, perlu disadari bahwa penyakit mental adalah realitas yang kompleks. Nosologi (klasifikasi penyakit) terikat pada teori dan sarat nilai, tetapi dapat meningkat seiring kemajuan ilmu dan debat yang relevan. Hal ini menekankan bahwa berbagai faktor terlibat dalam patogenesis gangguan mental, dengan mekanisme kausal yang beroperasi pada berbagai tingkat interaksi. Sedangkan, dalam intervensinya perlu menggabungkan berbagai wawasan tentang sifat gangguan mental dan menargetkan berbagai faktor yang terlibat dalam patogenesisnya, termasuk faktor biologis dan sosial.
Kesimpulan: Membedakan Sains dari Saintisme
Berdasarkan penjabaran di atas, maka kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa sains berbeda dari saintisme. Apakah perbedaannya? Sains adalah usaha menjelajahi dunia alam dengan menggunakan metode yang mapan dan tergambar dengan jelas. Mengingat kompleksitas alam semesta, dari yang sangat besar hingga yang sangat kecil dan dari anorganik hingga organik, terdapat beragam disiplin ilmu, di mana tiap-tiap bidang sains menggunakan teknik spesifiknya sendiri. Jumlah spesialisasi yang berbeda terus meningkat, yang mengarah ke lebih banyak pertanyaan dan bidang eksplorasi daripada sebelumnya. Sains memperluas pemahaman kita, bukan membatasinya.
Saintisme, di sisi lain, adalah pandangan dunia spekulatif tentang realitas tertinggi alam semesta dan maknanya. Terlepas dari kenyataan bahwa ada jutaan spesies di planet kita, saintisme memusatkan perhatiannya pada suatu kepercayaan. Alih-alih bekerja dalam batas-batas dan metodologi yang dibangun dengan hati-hati yang ditetapkan oleh para peneliti, saintisme mengambil sebagian batas tersebut atau metodologi tersebut dan secara luas menggeneralisasi untuk bidang lain atau bahkan seluruh bidang kajian ilmu pengetahuan manusia.
Merayakan sains atas pencapaiannya dan kemampuannya yang luar biasa untuk menjelaskan berbagai fenomena di alam adalah satu hal. Tetapi untuk mengeklaim bahwa tidak ada yang dapat diketahui di luar lingkup ilmu pengetahuan akan sama dengan seorang nelayan yang sukses, yang mengatakan klaimnya bahwa apa pun yang tidak dapat dia tangkap di jaringnya maka dapat disimpulkan bahwa itu tidak ada. Begitu Anda menerima bahwa sains adalah satu-satunya sumber pengetahuan manusia, Anda telah mengadopsi posisi filosofis (yaitu saintisme) yang tidak dapat diverifikasi oleh sains itu sendiri. Ini, dalam satu kata, adalah tidak saintifik.
*Sains Versus Saintisme[1]Tentang Penulis[2]

End Notes List

[1] Tulisan ini merupakan salah satu bahan Kajian RCRS bertema: Saintisme yang diselenggarakan pada tanggal 6, 13, 20, dan 27 November 2021

[2] Saat ini merupakan Georg-Foster Senior Research Fellow of the Alexander von Humboldt Stiftung/Foundation di Spectroscopy of Soft Matter, University of Bayreuth, Universitätsstraße 30, 95447 Bayreuth, Germany. Penulis dapat dihubungi melalui surel tatas.brotosudarmo@uni-bayreuth.de. Lebih jauh mengenai profil, publikasi, dan pekerjaan penulis: https://www.tatasbrotosudarmo.id/.

[3] “Data Sains, Dasar Pengambilan Kebijakan Penanganan COVID-19,” Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, 24 Juni 2020, https://covid19.go.id/p/berita/data-sains-dasar-pengambilan-kebijakan-penanganan-covid-19.

[4] Ibid., 1.

[5] Dalam Tom Sorell, Scientism, Philosophy and the Infatuation with Science (New York: Routledge, 1994), 2.

[6] Thomas Burnett, “What is Scientism?” American Association for the Advancement of Science, 21 Mei 2021, https://www.aaas.org/programs/dialogue-science-ethics-and-religion/what-scientism.

[7] Dalam tulisan ini, kata “sains” yang saya gunakan lebih merujuk pada ilmu alam (life science) dan yang terkait.

[8] Sorell, Scientism, Philosophy and the Infatuation with Science.

[9] Perlu dicatat bahwa pengetahuan sains yang dihasilkan oleh aktivitas riset harus dipresentasikan dalam suatu komunitas ilmiah pada bidang tertentu, yang mana hasil riset tersebut akan dievaluasi oleh pihak-pihak tertentu yang ditunjuk. Hasil yang dipresentasikan tersebut akan mengalami perubahan-perubahan untuk dapat diyakini tingkat kepastiannya oleh pihak-pihak representatif komunitas ilmiah tersebut. Oleh sebab itu, hasil yang diterima oleh satu komunitas ilmiah belum tentu diterima oleh komunitas ilmiah yang lain. Di sinilah titik temu komunikasi antarkomunitas ilmiah terjadi. Hasil-hasil riset yang berhasil diterima oleh banyak komunitas dianggap telah memiliki pengaruh atau dampak besar bagi komunitas ilmiah secara umum, sehingga diapresiasi, misalnya komunitas Royal Swedish Academy of Sciences memberikan hadiah Nobel untuk beberapa bidang ilmu tertentu.

[10] Konon kabarnya Pangeran Albert membacakan buku ini di hadapan Ratu Victoria.

[11] Robert Chambers terhitung bukan seorang ilmuwan secara profesi, namun lebih sebagai seorang jurnalis dan pemikir. Ide evolusi sebenarnya diungkapkan pertama kali dalam Système des Animaux sans Vertèbres tahun 1801 oleh Jean-Baptiste Lamarck, profesor zoologi lulusan Jesuit College di Amines. Namun, karena teori Lamarck kontroversial, dia mendapatkan banyak pertentangan.

[12] Lucas B. Mazur, “The Epistemic Imperialism of Science. Reinvigorating Early Critiques of Scientism,” Frontiers in Psychology 11, 609823 (Januari 2021), https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.609823.

[13] Saat membaca buku The Myth of Religious Neutrality karya Roy A. Clouser, mungkin Anda menemukan kutipan dari Aristotle yang menyatakan secara eksplisit mengenai makna dari sesuatu, yaitu divine atau bersifat ketuhanan. Aristotle mengatakan: “Therefore about that which can exist independently and is changeless, there is a science … And if there is such a kind of thing in the world, here surely must be the divine, and this must be the first and most dominant principle” (Metaphysics 1064a33 ff.). Bandingkan dengan para filsuf pra-Sokratik, misalnya para penganut Pitagoras, yang memiliki suatu doa, mengatakan “Bless us, divine number, thou who generatest gods and men! O holy, holy tetraktys, thou that containest the root and source of eternally flowing creation! For divine number begins with the profound, the pure unity until it comes to the holy four; then it begets the mother of all, the all-encompassing, the all-bounding, the first born, the never swerling, the never tiring holy ten, the keyholder of all.” Tobias Dantzig, Number: The Language of Science (Garden City, NY: Doubleday Anchor, 1954), 42 disitasi dari Roy A. Clouser, The Myth of Religious Neutrality (Notre Dame, Indiana: University of Notre Dame Press, 2005), 21.

[14] Zhen Chen et al., “Electron Ptychography Achieves Atomic-Resolution Limits Set by Lattice Vibrations,” Science 372, 6544 (Mei 2021): 826‒831, https://www.science.org/doi/10.1126/science.abg2533.

[15] René von Woudenberg, Rik Peels, dan Jeroen de Ridder, “Introduction: Putting Scientism on the Philosophical Agenda,” dalam Scientism: Prospects and Problems, ed. Jeroen de Ridder, Rik Peels, dan René van Woudenberg (New York: Oxford University Press, 2018), 7.

[16] Ibid., 11.

[17] Rik Peels, “Ten Reasons to Embrace Scientism,” Studies in History and Philosophy of Science Part A 63, (Juni 2017): 11‒21, https://doi.org/10.1016/j.shpsa.2017.04.001.

[18] Johan Hietanen et al., “How Not to Criticise Scientism,” Metaphilosophy 51, no. 4 (Juli 2020): 522‒47, https://doi.org/10.1111/meta.12443.

[19] Ibid., 13.

[20] J. M. Leggett, “Medical Scientism: Good Practice or Fatal Error?” Journal of the Royal Society of Medicine 90, no. 2 (Februari 1997): 97‒101, https://doi.org/10.1177/014107689709000213.

[21] Dan J. Stein dan Judy Illes, “Beyond Scientism and Skepticism: An Integrative Approach to Global Mental Health,”  Frontiers in Psychiatry 6, 166 (November 2015), https://doi.org/10.3389/fpsyt.2015.00166.

[22] Christopher J. L. Murrayet al., “Disability-Adjusted Life Years (DALYs) for 291 Diseases and Injuries In 21 Regions, 1990-2010: A Systematic Analysis for the Global Burden of Disease Study 2010,” Lancet 380, no. 9859 (Desember 2012): 2197–223, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(12)61689-4.

[23] (a) Bruce N. Cuthbert dan Thomas R. Insel, “Toward the Future of Psychiatric Diagnosis: The Seven Pillars of RdoC,” BMC Medicine 11, no. 126 (Mei 2013), https://doi.org/10.1186/1741-7015-11-126; (b) K. S. Jacob dan Vikram Patel, “Classification of Mental Disorders: A Global Mental Health Perspective,” Lancet 383, no. 9926 (April 2014): 1433–5, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(13)62382-X.

[24] Etiologi terkait dengan asal atau penyebab dari suatu penyakit.

[25] Patofisiologi merupakan gabungan dari kata “patologi” dan “fisiologi”, yang berarti ilmu yang mempelajari gangguan fungsi pada organisme yang sakit, meliputi asal penyakit, permulaan perjalanan dan akibat.

[26] Cuthbert dan Insel, “Toward the Future of Psychiatric Diagnosis,” 20.


Penyunting:
Semy Arayunedya
Calvin Nathan Wijaya

Our Visitor

005889
Users Today : 2
Views Today : 3
Views Yesterday : 31
Views Last 7 days : 232
Views Last 30 days : 968
Views This Month : 667
Views This Year : 5696
Total views : 7928
Who's Online : 0

Alamat

Perkantoran Plaza Pasifik B4, No 73-75
Jl. Raya Boulevard Barat
Kelapa Gading
Jakarta Utara 14240

Kontak

Telp:  +62 21 - 4584 2223
WA:   +62 822-6969-9393

Copyright © 2021 Reformed Center For Religion & Society
Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0