Roh Henry Dunant

Kompas Jawa Timur, 8 Mei 2007
Antonius Steven Un

Hari Selasa ini merupakan peringatan 179 tahun lahirnya Henri Dunant, yang lahir tahun 1828. Jasanya terhadap kemanusiaan tidak perlu diragukan lagi. Oleh ide pemikirannya dalam buklet Un Souvenir de Solferino (Kenangan tentang Solferino) maka asosiasi Societe Genevoise d’Utilise Publique (Masyarakat Geneva Untuk Kesejahteran Umum) mendirikan Palang Merah International (International Committee of the Red Cross – ICRC) pada 17 Februari 1863.

Atas jasanya bagi kemaslahatan kemanusiaan, Dunant dianugerahi hadiah Nobel tahun 1901. Dalam official congratulation, Komite Nobel mengatakan, “Without you, the Red Cross, the supreme humanitarian achievement of the nineteenth century would probably have never been undertaken”. Luar biasanya, Palang Merah Internasional yang merupakan buah keringat Dunant juga akhirnya dihadiahi Nobel sebanyak tiga kali yakni tahun 1917, 1944 dan 1963. Dalam rangka ini, sebuah refleksi tentang roh (baca: semangat) Henri Dunant perlu dikemukakan agar dapat menjadi semangat bersama demi kebaikan kemanusiaan.

Pertama-tama, roh Dunant adalah roh yang tidak mencari kemuliaan melainkan merendahkan diri bagi kebaikan orang lain. Ia seorang pebisnis, tokoh religius dan tokoh kemanusiaan terkemuka tetapi sejak tahun 1867 hingga ajal menjemputnya, ia hidup sangat miskin di tengah kebangkrutan ekonominya. Kebangkrutan terjadi karena Dunant lebih berambisi kepada cita-cita kemanusiaan ketimbang ventura bisnisnya. Pasca kebangkrutan itu, ia tidak diterima baik di antara orang-orang sebangsanya di Geneva, hidup seperti pengemis dan ada saat-saat ketika ia hanya makan kerak roti dan tidur di emperan rumah. Dunant meninggal dalam kesepian tanpa upacara penguburan dan iring-iringan pengantar jenazah. Seorang tokoh pejuang kemanusiaan yang dikuburkan hampir tidak manusiawi.

Memang sebuah ironi. Dunant sepanjang hidupnya memperjuangkan agar kehidupan umat manusia tidak seperti binatang tetapi ia sendiri meninggal seperti binatang! Inilah semangat kemanusiaan sejati, tidak memanipulir perjuangan kemanusiaan bagi kehormatan diri. Dengan roh seperti ini maka diharapkan para wakil rakyat tidak hanya mewakili kepentingan partai dan kepentingan diri sendiri tetapi harus rela memperjuangkan kepentingan kemanusiaan secara umum, dan secara khusus, kepentingan konstituen yang telah memilihnya. Dalam konteks pemilihan kepala daerah di propinsi dan belasan kabupaten/kodya di Jawa Timur, sikap hati seorang kandidat memasuki panggung politik semata-mata karena iming-iming kekayaan dan kekuasaan tanpa ketetapan hati untuk memperjuangkan kepentingan kemanusiaan sejatinya tidaklah sejalan dengan roh Dunant.

Selain merendahkan diri, roh Dunant adalah roh inkarnasi, rela meninggalkan segala kemuliaan dan turun ke bawah, ke tengah-tengah pusat penderitaan manusia. Buklet Un Souvenir de Solferino yang merupakan sumber ide bagi Palang Merah Internasional, merupakan hasil interaksi langsung Dunant di tengah salah satu pertempuran paling berdarah di Solferino, Italia Utara. Buklet ini menceritakan tentang lokasi pertempuran lengkap dengan segala penderitaan dan kesengsaraan di dalamnya termasuk usaha merawat orang-orang terluka. Dalam buku kecil ini, Dunant kemudian memberikan usulan agar negara-negara di dunia memberikan pertolongan perawatan selama masa perang bagi para korban perang yang terluka atau cacat.

Fakta empiris yang kita lihat kini berbanding terbalik dengan kebajikan Dunant. Pejabat publik enggan untuk merelakan diri turun hingga ke pusat krisis dan menjangkau rakyat banyak dengan sentuhan personal. Yang ada adalah rakyat dianggap merepotkan dan mengganggu kepentingan pejabat dan partai politik. Terus terang, ketimbang berkunjung ke daerah krisis, pejabat dan wakil rakyat lebih suka melakukan kunjungan kerja, studi banding atau perjalanan dinas ke luar negeri. Rencana kunjungan kerja 100 anggota DPRD Propinsi Jawa Timur ke luar negeri yang menghabiskan uang rakyat Rp. 5 miliar menjadi polemik karena efektifitas dan efisiensinya diragukan, belum lagi kalau terjadi mark-up. Kilah mereka, nanti sepulang dari ngelencer ke luar negeri, anggota dewan akan membuat laporan. Namun demikian, efektifitas perjalanan dinas lintas negara ini bukan diuji berdasarkan adanya laporan atau tidak melainkan dari dampak langsung kepada perbaikan kinerja anggota dewan yang pada gilirannya berdampak secara empiris kepada masyarakat. Roh Dunant adalah semangat berada di tengah-tengah penderitaan rakyat dan bukan memanfaatkan uang rakyat untuk bersukaria di luar negeri.

Terakhir, roh Dunant adalah roh penuh belas kasihan dan bukan kekejaman. Ide menghadirkan Palang Merah Internasional datang setelah dengan amat shock ia melihat tiga puluh delapan ribu orang yang terluka, sekarang dan meninggal di medan pertempuran di Solferino. Timbul belas kasihan dalam hatinya untuk menolong mereka dengan mengorganisasikan masyarakat sipil khususnya wanita guna memberikan pertolongan pertama. Ia juga mengorganisasikan bantuan guna mencukupi kebutuhan logistik bagi korban perang tanpa memandang kawan atau lawan, dengan suatu motto, “Tutti Fratteli” (Semua adalah Saudara).

Roh belas kasihan ini harus diinsersi ke dalam sanubari dan nurani masyarakat kita di tengah krisis kekinian. Lawan dari roh belas kasihan adalah kekejaman yang bersifat ignorance (tidak mau tahu) terhadap penderitaan kemanusiaan. Dalam konteks yuridis, korupsi merupakan kekejaman terhadap kemanusiaan karena tidak memiliki sense of crisis, tanpa roh belas kasihan memanipulir uang rakyat untuk kepentingan sendiri. Itu sebabnya, demi kepentingan kemanusiaan maka kasus-kasus korupsi seperti Pasar Induk Agrobisnis Jemundo dan APBD Jember harus diusut tuntas.

Dalam konteks sosiologis, kekerasan dalam rumah tangga merupakan lawan dari roh belas kasihan. Setelah Siti Nurzalilah (Lisa) yang rusak wajahnya karena perlakuan suami dan telah mengalami operasi rekonstruksi wajah, terakhir di Jawa Timur, kasus kekerasan penuh kekejaman terjadi pada diri Nur Idayani, ibu rumah tangga asal Ngepungsari, Cerme, Gresik (Kompas Jawa Timur, 19/04/2007). Ia disirami berkali-kali dengan air keras oleh suami yang tidak bertanggung jawab, Bambang Mulyono. Perlakukan tak bernurani ini bukan yang pertama karena Nur Idayani telah kerap disulut api rokok atau disirami kopi panas yang rasanya tidak sesuai dengan keinginan suami.

Inspirasi Henri Dunant membawa kita kepada suatu model relasi antara manusia yang penuh dengan roh belas kasihan dan bukan kekejaman. Roh belas kasihan adalah roh yang keluar dari nurani yang peka kepada aspirasi penderitaan orang lain. Kalau relasi antara individu dalam masyarakat penuh roh belas kasihan, sejatinya kasus-kasus kekerasan yang menyayat hati akan tereliminir dengan sendirinya, sekalipun memang tidak bisa dieradikasi secara total.

Semoga muncul para Henri Dunant baru bagi kepentingan kemanusiaan.

Antonius Steven Un, Penulis adalah Ketua Sekolah Teologi Reformed Injili Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Alamat

Perkantoran Plaza Pasifik B4, No 73-75
Jl. Raya Boulevard Barat
Kelapa Gading
Jakarta Utara 14240

Kontak

Telp:  +6221 - 4584 2220 / 21 / 23 / 24
WA:   +62 822-6969-9393

© Copyright © 2021 Reformed Center For Religion & Society