Pembangunan Hajat Hidup Orang Banyak

Investor Daily, 11 Agustus 2009
Binsar A. Hutabarat

Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dalam kongres ke-17 di Bukit Tinggi menyimpulkan, ekonomi Indonesia saat ini didominasi oleh asing. Ini terjadi karena Indonesia telah membuka diri terlalu jauh terhadap investasi asing, akibatnya, sejumlah bidang strategis yang awalnya dikuasai negara kini telah dikuasai asing.

Makin tergerusnya kedaulatan Indonesia dibidang ekonomi terlihat jelas pada bisnis ritel modern Indonesia yang kini dikuasai asing. Bukan hanya pasar ritel lokal yang “kelimpungan” bersaing dengan ritel asing, pasar tradisional yang menjadi sandaran jutaan rakyat Indonesia terancam banyak yang gulung tikar.

Sekitar 85% pengelolaan lapangan migas di Indonesia saat ini dikuasai asing, dan telah memperkaya asing, misalnya, PT Freeport Indonesia yang menambang emas dan tembaga di Mimika Papua yang merupakan salah satu penghasil emas terbesar di dunia dengan kontribusi laba terhadap perusahaan induknya, Freeport McMorran yang tercatat di New York Stock Exchange, mencapai 70% lebih, itu adalah saksi bahwa manfaat terbesar perusahaan-perusahaan tambang Indonesia untuk kepentingan asing, kekayaan alam Indonesia terus-menerus di keruk oleh asing.

Dominasi asing juga merambah di bisnis telekomunikasi yang sedang “booming”di negeri ini. Bahkan, 50% dari saham bank-bank papan atas di negeri ini dikuasai asing. Semakin meneguhkan bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami krisis kedaulatan.

Apabila Pemerintah Indonesia terus membiarkan dominasi asing merajalela di negeri ini, bukan mustahil, kemerdekaan yang adalah jembatan emas untuk memerdekakan rakyat Indonesia dari kemiskinan itu tak akan banyak manfaatnya. Krisis kedaulatan yang terus menggerogoti Indonesia melalui dominasi asing pada bidang-bidang strategis di negeri ini bisa menghantarkan Indonesia menjadi negara gagal.

Bahaya Imperialisme
Beberapa abad yang lalu Francis Bacon sudah mengingatkan bahwa landasan teleologis ilmu ialah meningkatkan kesejahteraan manusia. Penguasaan Ilmu (yang memberikan pengetahuan) dan teknologi (yang menunjukan cara untuk memakai pengetahuan itu) memampukan manusia untuk dapat mengolah alam bagi pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Itulah sebabnya pengusaan ilmu dan teknologi telah membuat negara yang miskin sumber alamnya, seperti misalnya Korea Selatan, Jepang dan khususnya negara-negara Barat, berhasil memajukan negeri mereka. Kemampuan mengolah alam dengan menggunakan teknologi tinggi itu menjadikan negara maju bukan saja dapat memaksimalkan hasil alam mereka, tapi juga telah memberikan mereka kemampuan mengolah hasil alam dari negara-negara yang melimpah sumber alamnya, namun gagap dalam teknologi dan lemah dalam keuangan.

Sayangnya, kemajuan teknologi juga membuat negara-negara maju tergoda untuk merampas kedaulatan negara-negara miskin yang merdeka melalui penguasaan ekonomi demi memuaskan nafsu serakah manusia, dan nafsu terus berkuasa dengan adanya penguasaan teknologi. Jadi, teknologi sesungguhnya tidak netral, dan telah dikuasi oleh nafsu manusia untuk berkuasa.

Kemajuan teknologi terbukti telah melahirkan era baru penjajahan di bidang ekonomi, yang membuat negara-negara merdeka tidak lagi memiliki kedaulatan penuh atas negerinya. Ini merupakan fenomena baru setelah perang dunia kedua, dan Indonesia adalah salah satu korbannya.

Bacon juga telah menurunkan dictum yang tersohor bahwa ilmu adalah kekuasaan, dan teknologi adalah tangan ilmu. Ada ungkapan, kekuasaan itu jahat (Power is corrupt) karena itu, kita jangan naif, bahwa perusahaan multi nasional atau asing itu akan membagi keuntungannya dengan adil dengan Indonesia.

Perusahaan asing atau multi nasional yang menguasai Indonesia dengan kepemilikan teknologi tinggi harus dicurigai, pemerintah harus terus mengevaluasi pembagian hasil yang setimpal. Bahaya imperialisme adalah realitas yang harus diwaspadai dengan masuknya perusahaan-perusahaan asing tersebut.

Hajat Hidup Orang banyak
Alinea kedua pembukaan UUD 1945 secara indah melukiskan, Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Pembangunan Indonesia adalah hasil kerjasama seluruh rakyat Indonesia untuk mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Pasal 33 UUD 1945 secara tegas menetapkan bahwa rakyat Indonesia berhak mendapatkan kesejahteraan melalui pengelolaan alam Indonesia yang dikuasai oleh negara. Makin lebarnya jurang antara yang kaya dan miskin yang terjadi di Indonesia mengindikasikan adanya penyimpangan yang terjadi dalam pembangunan Bangsa Indonesia. Dominasi asing merupakan salah satu penyebanya.

Hal yang sama juga dijelaskan oleh sila kelima dari Pancasila, pembangunan masyarakat Indonesia, termasuk pembangunan dalam bidang ekonomi harus memberikan keadilan bagi semua rakyat Indonesia. Kelima sila Pancasila itu oleh Soekarno diperas menjadi satu sila yakni Gotong Royong, bagi Soekarno itu merupakan intisari dari Pancasila yang menjadi dasar bagi pembangunan Indonesia, yakni suatu pembangunan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, dalam hal ini bagi seluruh rakyat Indonesia, inilah yang menjadi tujuan kemerdekaan kita.

Kemerdekaan adalah “jembatan emas” untuk memerdekakan rakyat Indonesia. Sebagai Negara yang merdeka dan berdaulat, Indonesia harus berjuang memanfaatkan seluruh kekayaan alamnya secara maksimal untuk kesejahteraan rakyatnya.

Secara “de Jure” Indonesia masih menjadi negara yang merdeka, namun kedaulatan Negara Indonesia kini mengalami krisis. Tergerusnya kedaulatan di bidang ekonomi otomatis akan membuat kemerdekaan tidak lagi efektif sebagai jembatan emas untuk mensejahterakan rakyat Indonesia yang masih banyak tinggal dalam kemiskinan. Jika kondisi ini dibiarkan, bukan mustahil Indonesia akan menjadi negara gagal sebagaimana terjadi pada negara-negara di benua Afrika.

Pembangunan Indonesia masih belum dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Apalagi dengan adanya penguasaan bidang-bidang strategis di Indonesia oleh asing, ini tentu akan menghambat implementasi dari tujuan kemerdekaan Indonesia, yakni tercipyanya keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

Intervensi asing yang dimungkinkan dengan penguasaan bidang-bidang strategis itu akan membuat pembangunan Indonesia tidak “melulu” untuk rakyat Indonesia, tetapi juga untuk kepentingan asing yang menguasai bidang-bidang strategis di negeri ini. Akibatnya, pembangunan Indonesia bukan lagi hasil musyawarah dan mufakat seluruh bangsa Indonesia, tapi telah dicampuri oleh pihak asing. Ini tentu saja bertentangan dengan cita-cita negara Indonesia. Jadi pembangunan untuk hajat hidup orang banyak yang kita cita-citakan itu sesungguhnya belum tercapai dan mesti kita kerjakan lebih bersungguh-sungguh lagi.

Binsar A. Hutabarat, Penulis adalah Peneliti Reformed Center for Religion Society

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Alamat

Perkantoran Plaza Pasifik B4, No 73-75
Jl. Raya Boulevard Barat
Kelapa Gading
Jakarta Utara 14240

Kontak

Telp:  +6221 - 4584 2220 / 21 / 23 / 24
WA:   +62 822-6969-9393

© Copyright © 2021 Reformed Center For Religion & Society