Demonstrasi Kasih dalam Pengorbanan

Jawa Pos, 10 April 2009
Antonius Steven Un

Hari Jumat, 10 April ini, umat Kristiani sedunia memperingati Wafatnya Isa Almasih yang dilanjutkan dengan Paskah sebagai momen kebangkitan dan kemenangan atas maut. Sehari sebelumnya, masyarakat Indonesia menjalankan pesta demokrasi pemilihan umum legislatif. Permenungan kritis atas interkoneksi momen politik dan religius ini patut dilakukan.

Paskah adalah wajah utuh sebuah servant leadership (kepemimpinan hamba). Dalam aroma anyir suksesi kepemimpinan nasional tahun ini, rasa-rasanya nada kepemimpinan yang melayani patut dilagukan kembali. Paskah adalah lonceng yang berbunyi memanggil manusia untuk merendahkan diri dan melayani orang lain.

Konsepsi servant leadership pernah diajarkan Yesus dalam adagium, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Markus 10:43-44).

Adagium ini diucapkan dalam konteks rivalitas di antara murid-murid Yesus sendiri, di mana 10 murid yang lain menjadi berang kepada dua murid bersaudara yakni Yohanes dan Yakobus yang lancang meminta jabatan. Namun demikian, kemarahan kesepuluh murid tersebut bukanlah didasarkan atas compassion terhadap kebenaran melainkan atas dasar ambisi despotisme dan rivalisme.

Hal ini mirip dengan kejadian di mana salah seorang anggota Cynic, sebuah mazhab filsafat Yunani yang menginjak-injak baju kuda Alexander Agung sambil berseru “calco fastum Alexandri” (sekarang saya menginjak harga diri Alexander), pada saat yang sama dijawab dengan seruan lain, “sed majori fastu” (tetapi dengan kesombonganmu yang lebih besar dari Alexander).

Antitesis Ambisi Despotisme
Konteks ini memberikan negasi kepada konsep kepemimpinan sejati bahwa servant leadership merupakan antitesis kepada ambisi despotisme. Ambisi jahat inilah yang sayangnya justru dipraktekkan oleh model kepemimpinan raja Herodes dan Wali Negeri Pilatus dalam Narasi Paskah.

Menjelang pemilihan legislatif, pertanyaan kritis-reflektif bagi para calon pemimpin adalah sesungguhnya motif apa yang melandasi akan “nafsu” para tokoh nasional untuk melaju dalam pertarungan kepemimpinan nasional. Jikalau motifnya adalah ambisi despotisme dan rivalisme maka tidak heran, roh kekejaman, roh Herodes-Pilatus akan terus “menghantui” para pemimpin, yang menyebabkan mereka dapat melakukan kekejaman kepada rakyat.

Kekejaman tersebut antara lain, pertama, suatu bentuk dehumanisasi melalui mereduksi rakyat sekedar sebagai komoditi politik guna menghantarkan kanditat ke kursi kepemimpinan, sementara kebutuhan dan penderitaan rakyat diabaikan. Kedua, hilangnya sense of crisis, antara lain dengan melakukan kebijakan mercusuar yang sesungguhnya tidak tepat guna dan tidak tepat nalar dalam pandangan publik, namun menguntukan pejabat belaka.

Ketiga, hilangnya sense of crisis menyebabkan jalur komunikasi politik yang buntu sehingga memaksa rakyat kerap menggunakan aksi ekstra-parlementer yang melelahkan dan bahkan berpotensi terjadi kekerasan fisik. Keempat, komersialisasi penderitaan rakyat, antara lain dengan komersialisasi korban bencana alam dan korban kemiskinan guna mendapatkan sumber daya finansial yang penggunaannya imun audit dan tidak mendarat pada kebutuhan rakyat banyak.

Vocation of the Servant
Sebaliknya, motif dari servant leadership adalah menjadi hamba, menjadi pelayan bagi semuanya. Teolog William Lane menyebutnya sebagai “vocation of the servant” (1974) yakni suatu model kepemimpinan yang menegaskan eksistensi diri “bukan untuk dilayani melainkan melayani” (Markus 10:45).

Kerelaan Yesus Kristus memikul salib di Golgota merupakan ekspresi servant leadership di dalam beberapa aspek. Terdepan, demonstrasi kasih terbesar. Salib merupakan penerjemahan motif kasih Allah kepada manusia berdosa (Yohanes 3:16). Servant leadership berlandaskan kasih sejati dan itulah yang dipraktekkan di Golgota. Di luar itu, terdapat nilai altruistik, rela menderita bagi umat-Nya. Salib dalam teologi Kristen merupakan kematian yang menggantikan (substitutional death) guna melepaskan umat-Nya dari dosa dan maut.

Akhirnya, salib adalah harga kebenaran (the price of truth) karena Yesus mempertahankan kebenaran menghadapi pengadilan tidak adil dan kedengkian dari perselingkuhan kotor pemimpin agama, politik dan hukum. Seorang pemimpin harus rela memperjuangkan kebenaran dengan harga yang mahal.

Ekspresi servant leadership dalam konteks kekinian terwujud dalam beberapa hal pertama demonstrasi kasih, dalam bentuk pengorbanan bukan manipulasi, eksploitasi dan reduksi eksistensi dan peran rakyat bagi kepentingan sempit sang penguasa. Demi kekuasaan, politisi menebar pesona di Situ Gintung tetapi tutup mata di Lumpur Lapindo.

Kedua, nilai altruistik berupa pembatasan fasilitas dan kemewahan diri. Ketiga, kepemimpinan hamba menuntut harga yang mahal bagi perjuangan kebenaran dan keadilan. Almarhum Munir telah melakukan itu: ia membayar harga mahal bagi kebenaran. Bagaimana dengan pemimpin dan calon pemimpin yang lain?

Selamat Paskah!

Antonius Steven Un, Rohaniwan dan peneliti teologi politik pada Reformed Center for Religion and Society. Berdomisili di Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Alamat

Perkantoran Plaza Pasifik B4, No 73-75
Jl. Raya Boulevard Barat
Kelapa Gading
Jakarta Utara 14240

Kontak

Telp:  +6221 - 4584 2220 / 21 / 23 / 24
WA:   +62 822-6969-9393

© Copyright © 2021 Reformed Center For Religion & Society