Anda berada di :

Beranda

Seminar & Kegiatan

Kontak

Reformed Center for Religion and Society

Perkantoran Plaza Pasifik B4, No 73-75
Jl. Raya Boulevard Barat
Kelapa Gading
Jakarta Utara 14240
Tel: +6221 - 4584 2220 / 4584 2221 / 4584 2223 / 4584 2224
Fax: +6221 - 4585 4062
Email: reformed.crs@gmail.com
Web: www.reformed-crs.org

Jurnal

Societas Dei Vol 04, No.2, Oktober 2017

 

Binsar A. Hutabarat: RCRS Jakarta

 

Kebijakan Pendidikan di Indonesia:Evaluasi Terhadap Rumusan Kebijakan Kurikulum Bidang Pendidikan Tinggi

 

ABSTRACT: This article entitled, “The Policy of Education in Indonesia: An Evaluation towards The Formula of Curriculum Policy for Higher Education” focuses on the study of the formulation of curriculum policy which refers to the framework of national qualification in Indonesia. This research uses qualitative method: the data was gathered through an interview, questionnaire distribution, and observation on three tertiary institutions in Indonesia, also secondary data in the form of selected books. This research finds that a curriculum policy which refers to the framework of national qualification in Indonesia is an elite product and weak in terms of socialization, and the consequence of this policy’s application is not as expected. KEYWORDS: policy of education, evaluation of policy, higher education, higher education curriculum

ABSTRAK: Artikel yang berjudul “Kebijakan Pendidikan di Indonesia: Evaluasi terhadap Rumusan Kebijakan Kurikulum Bidang Pendidikan Tinggi” ini fokus pada kajian perumusan kebijakan kurikulum mengacu pada kerangka kualifikasi nasional Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, penyebaran kuesioner, observasi pada tiga perguruan tinggi di Indonesia, serta data-data sekunder berupa pustaka terpilih. Temuan penelitian ini adalah kebijakan kurikulum mengacu pada kerangka kualifikasi nasional Indonesia merupakan produk elite dan lemah dalam sosialisasi, akibatnya pelaksanaan kebijakan tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan. KATA-KATA KUNCI: kebijakan pendidikan, Evaluasi kebijakan, pendidikan tinggi, kurikulum pendidikan tinggi.


 Amin Mudzakkir: LIPI Jakarta

Kembalinya Tradisi: Rasionalitas dan Etika Komunitarian Alasdair MacIntyre

ABSTRACT: This paper will discuss rationality and ethics in the thought of Alasdair MacIntyre. Like other communitarian thinkers, tradition is the key word in his thinking. MacIntyre's rationality and ethics are tradition-based rationality and ethics. The return of tradition in the debate of rationality and ethics is a critique of the Enlightenment project which assumes that tradition is irrational. But MacIntyre also disagrees with the post-enlightenment argument with a relativist and perspective tendency. However the rationality and ethics proposed by MacIntyre still has a certain principle of objectivity. Used in contemporary realities, including in Indonesia, Alasdair Macintyre's thought is useful for understanding political identity critically. KEYWORDS: rationality, ethics, traditions, communiatrian, Alasdair Macintyre

ABSTRAK:  Tulisan ini akan mendiskusikan rasionalitas dan etika dalam pemikiran Alasdair MacIntyre. Seperti pemikir komunitarian lainnya, tradisi adalah kata kunci dalam pemikirannya. Rasionalitas dan etika MacIntyre adalah rasionalitas dan etika yang berbasis pada tradisi. Kembalinya tradisi dalam perdebatan rasionalitas dan etika merupakan kritik terhadap proyek Pencerahan yang menganggap bahwa tradisi adalah irasional. Akan tetapi MacIntyre juga tidak setuju dengan argumen pasca-Pencerahan yang bertendensi relativis dan perspektivis. Bagaimanapun rasionalitas dan etika yang yang diajukan oleh MacIntyre tetap mempunyai prinsip objektivitas tertentu. Digunakan dalam realitas kekinian, termasuk di Indonesia, pemikiran Alasdair Macintyre cukup berguna untuk memahami gejala politik identitas lebih kritis. KATA KATA KUNCI: rasionalitas, etika, tradisi, komunitarianisme, Alasdair Macintyre


Marz Wera: Peniliti PENA Institute, Bandung

Membingkai Ruang Dialog Beragama: Belajar dari Hans Küng dan Seyyed Hossein Nasr

ABSTRACT: Religious pluralism in Indonesia is currently in a state of confusion. The reality of religious diversity is insulated by misguided and superficial interpretations. The space for religious dialogue is entangled by group selfishness, squeezed by religious formalism, as well as claims of theological truth. The approach of dialogue, both exclusivism and inclusivism and even pluralism, has not been able to knit religious plurality. Traditions, symbols, rituals, ethical dimensions and the universal core in religions as a precondition of dialogue are actually a ignored. Such pluralism leads to the relativism of the teachings of religions. In that context, the author offers two approach concepts as a new way of interreligious dialogue. '' Global Ethics '' by Hans Küng and '' Perennial Philosophy '' by Seyyed Hossein Nasr. These two concepts provide an understanding of the unique and unique dimensions of religions that must be observed and should not be ignored. KEYWORDS: global ethics,  Perennial Philosophy, traditions, dialogue, exclucivism,  inclusivism, pluralism

ABSTRAK: Pluralisme agama di Indonesia saat ini sedang dalam kegamangan. Realitas keberagaman agama tersekat oleh tafsiran sesat dan dangkal. Ruang dialog beragama tersekat oleh egoisme kelompok, terhimpit formalisme agama, serta klaim kebenaran teologis. Pendekatan dialog baik eklusivisme maupun inklusivisme bahkan pluralisme, belum mampu merajut pluralitas agama. Tradisi, simbol, ritual, dimensi etis dan inti universal dalam agama-agama sebagai prasyarat dialog justru diabaikan. Pluralisme tersebut berujung pada relativisme ajaran agama-agama. Dalam konteks itu, penulis menawarkan dua konsep pendekatan sebagai cara baru berdialog antar-agama. ‘’Etika Global’’ oleh Hans Küng dan ‘’Filsafat Perennial’’ oleh Seyyed Hossein Nasr. Dua konsep ini memberikan pemahaman akan dimensi yang khas dan unik dalam agama-agama yang harus diperhatikan dan tidak boleh diabaikan. KATA KATA KUNCI: etika global, filsafat perennial, tradisi, dialog, ekslusivisme, inklusivisme, pluralism


Andreas M. Putra:Lulusan Filsafat-Teologi Universitas Katolik Parahyangan, Bandung

Koreksi Persaudaraan: Tantangan dalam Mengembangkan Hidup Bersama (Sebuah Kajian Atas Pemikiran St. Agustinus)

ABSTRACT: Fraternal correction is an endeavor that will never end in life. In the diversity of the society, fraternal correction needs to be a pillar to achieve life’s goal of living together as expected through the idea of Augustine. With the reality of plurality, fraternal correction is expected to be one of the strongest foundations in spite of challenges such as differences in interpretation, communication and corrective aversion. It is difficult but necessary to be actualized because it is useful in building togetherness and bringing repentance. Fraternal correction is an admonition given to our neighbor to help them along the path to holiness. It is a means of spiritual progress to help us to know our defects, since these may often be hidden from us by our limitations, disguised by our self-love. It is a necessary precondition to enable us to tackle those defects with God’s help, and so improve our living. KEYWORDS: fraternal correction, prayer, offering, love, simplicity, Christian, church, individual, social.

ABSTRAK: Koreksi persaudaraan adalah sebuah usaha yang tak akan pernah berkesudahan dalam hidup. Dalam keragaman masyarakat, koreksi persaudaraan mesti menjadi penyokong untuk menggapai tujuan hidup bersama sebagaimana dicita-citakan dalam ideal St. Agustinus. Dengan realitas keragaman, koreksi persaudaraan diharapkan menjadi salah satu fondasi kuat disamping tantangan-tantangan yang ada seperti perbedaan interpretasi, komunikasi dan keengganan mengoreksi. Meskipun sulit namun penting untuk diaktualisasikan karena berguna untuk membangun kebersamaan dan membawa metanoia. Koreksi persaudaraan menjadi nasihat yang diberikan sesama untuk membantu mereka pada jalan kesucian. Itu menjadi sarana perkembangan spiritual untuk membantu kita mengenal kekurangan (cela) yang mungkin tersembunyi oleh karena keterbatasan dan cinta diri (egois). Koreksi persaudaraan merupakan prasyarat untuk memampukan kita mengatasi semua kekurangan dengan bantuan Allah dan memperbaharui hidup kita. KATA KATA KUNCI: koreksi persaudaraan, doa, persembahan, cinta, jalan sederhana, kristiani, gereja, individu, sosial.


Frits O. Tatilu: STTII Jakarta

Hukum Kasih: landasan Bersama Agama-agama

ABSTRACT: This article wich is entitled as "The Law of Love: A Joint Foundation of Religions" focuses on how the low of love is able to be applied in the joint life of religions in Indonesia, especially as a joint  foundations in the formulation of non-discriminatory policy be it in central government or in local government. Firstly, it will be discussed about the understanding of the law of love Christian perspective, and then it will be also discussed about views of religions related with the law of love. The writer supposes that the law of  love is able to be a joint foundations of religions, as well as be applied in the formulation of non-discriminatory public policy. KEYWORDS: the law of love, religious, joint foundations, discrimination

ABSTRAK: Artikel yang berjudul “Hukum Kasih: Landasan Bersama Agama-agama ini fokus pada bagaimana  “Hukum Kasih” dapat diterapkan dalam kehidupan bersama agama-agama di Indonesia, secara khusus sebagai landasan bersama perumusan kebijakan non diskriminatif baik di pemerintahan pusat maupun pemerintahan daerah. Pertama-tama akan dipaparkan mengenai pemahaman Hukum Kasih dalam perspektif Kristen, dan kemudian akan dipaparkan  mengenai pandangan agama-agama terkait Hukum kasih. Penulis beranggapan bahwa hukum kasih dapat menjadi landasan bersama agama-agama, demikian juga dalam permusan kebijakan publik yang non diskriminatif. KATA KATA KUNCI: hukum kasih, agama-agama,  landasan bersama, diskriminasi.

 

Selengkapnya

Artikel Terbaru

Benahi Bangsa Melalui Pendidikan Inovatif

Investor Daily 28 Okt 2015
Tandean Rustandy

Tanpa penguasaan pengetahuan yang terintegrasi, kita tidak mampu mengolah kekayaan alam yang berlimpah untuk pembangunan bangsa yang berkelanjutan. Dibandingkan negara-negara Asean lainnya, pendidikan di negara kita jauh tertinggal. Ditambah dengan akses pendidikan yang belum merata. Ini kesalahan p

Selengkapnya>>

Selengkapnya