Anda berada di :

Jurnal

Pencarian :

Jurnal

Hal

>

3

2

1

<

  • Volume 1 No.1 Oktober 2014

     

    Stephen Tong, Gereja Reformed Injili Internasional

    HUBUNGAN AGAMA DAN POLITIK: SUATU REFLEKSI TEOLOGIS-KULTURAL

     

    ABSTRAK: Keyakinan akan kemutlakan tidak harus mengakibatkan disharmonisasi antara manusia yang berbeda-beda keyakinan melainkan tetap dapat menjalankan tugas perdamaian. Antropologi Calvinisme yang meyakini adanya kebenaran, keadilan dan kesucian pada manusia mendorong pengembangan demokrasi. Anugerah umum bagi semua manusia menggerakkan sikap hati untuk menerima keragaman. Manusia dicipta sebagai gambar Allah merefleksikan sifat rohani untuk beribadah kepada Allah. KATA KUNCI: Calvinisme, agama, demokrasi, anugerah umum, nasionalisme

     

    ABSTRACT: A belief on absoluteness should not cause disharmony among people with different beliefs: instead it should continue task of peace. Calvinism anthropology that believes: instead it  should continue task of peace. Calvinism anthropology that believes in the existence of truth, justuce and holiness in humanity encourages the development of democracy. Common grace for all mankind proples heart attitude to accept diversity. Mankind, wich is created as the image of God, reflects spiritual character to worship God. KEYWORDS: Calvinism, religion, democracy, common grace, nationalism

     


     

    Benyamin F. Intan, Sekolah Tinggi Reformed Injili Internasional

    KEKRISTENAN DAN VIOLENCE: JUST WAR DAN TRADISI KRISTEN

     

    ABSTRACT: After man has sinned, violence cannot be separated from human life. As Christianity comes into contact with violence, it generates a theory of just-war in responding against injustice. The application of just-war theory are not only limited to Christian circle, but has reached wider groups. Just-war has become a guidance for non-Christian philosephers and politicians to fight oppressors and to uphold justice. This paper describes the idea of just-war in  Christian tradition, firstly by exploring the legitimacy of war  in the light of the Word of God, and socondly by comparing it to the holy war in the context of the Old Testament. To better understand the views of the church leaders about just-war this paper will also discuss the criticisms against the theory. The author believes that the presence of just-war theory is crucial in the midst of this sinful world. KEYWORDS: violence, the legitimacy of war, just war, holy war, peace, justice, Christian love.

     

    ABSTRAK: Setelah manusia berdosa, violence (kekerasan) tidak mungkin lepas dari kehidupan manusia. Dan ketika bersentuhan dengan violence, kekristenan kemudian menelurkan teori just-war di dalam upaya menentang ketidakadilan. Penerapan teori just-war tidak hanya sebatas di kalangan Kristen, tetapi telah menjangkau kalangan luas--menjadi pegangan para filsuf dan politikus non-Kristen untuk melawan opresor dan menegakkan keadilan. Tulisan ini akan memaparkan pemikiran just-war dalam tradisi kekristenan dengan terlebih dahulu memaparkan mengenai legitimasi perang dalam terang Firman Tuhan, dan kemudian membandingkannya dengan holy war dalam konteks Perjanjian Lama. Untuk  lebih memahami pemikiran para tokoh gereja tentang just war tulisan ini juga akan membahas kritikan-kritikan terhadap teori tersebut. Menurut penulis kehadiran teori just-war sangat krusial di tengah-tengah dunia yang berdosa ini. KATA KUNCI: kekerasan, legitimasi perang, just war, perang suci, kedamaian, keadilan, kasih Kristen.

     

     


     

     

    Paul Marshall, Hudson Institutes

    CALVIN, SOCIETY, AND SOCIAL CHANGE

     

    ABSTRAK: Bagi Calvin, seluruh ciptaan berkedudukan sama di bawah kedaulatan kehendak Allah dan segala institusi kemasyarakatan tidak disusun secara hierarkis melainkan dibedakan secara panggilan. Karena itu, panggilan Allah tidak dimediasi secara khusus melalui salah satu institusi  tertentu, sehingga tidak  satu pun institusi dapat  menyatakan kedaulatan atas yang lainnya. Semua institusi ini diatur sejajar dalam kerja sama saling mendukung  satu dan lainnya, dan pekerjaan Allah dilakukan melalui ketaatan yang bebas dan sukarela oleh umat Allah. Hal ini membawa kepada  penekanan pergerakan politik dari sekadar pekerjaan elite atas menuju pekerjaan partisipatif -- ini merupakan reaksi manusiawi  yang dengan bebas menundukkan diri  mereka kepada Allah dan yang kemudian mentransformasikan keadaan sosial, ekonomi dan politik yang merefleksikan tatanan Allah. Hal ini juga membawa kepada pandangan kovenantal dari politik yang telah menciptakan federalisme yang modern. KATA KUNCI: Althusius, asosiasi, Calvin, federalisme, kebebasan, partisipasi rakyat, panggilan, subsidiaritas.

     

    ABSTRACT: For Calvin, the whole creation is equally under God's sovereign will and the institutions of society are not arranged hierarchially but are differentiated according to vocation. Because of this differentiation, God's calling is not mediated  exclusively through one of them, so none can claim sovereignity over the others. They are to be arranged side by side in mutual support of one another, and God's work is carried out by the free, voluntary obedience by God's people. This led in turn to a stress on moving politics from being simply an elite occupation to one that is participatory--the response of human beings who freely submit themselves to God and thus seek to transform the social, economic and political to reflect God's order. It also led to a covenantal views of politics that helped create modern federalism. KEYWORDS: Althusius, associations, Calvin, federalism, freedom, popular participation, vocation, subsidiarity.


    David Tong, Sekolah Tinggi Teologi Reformed Injili Internasional

     THE RELATIONSHIP BETWEEN CHRISTIANITY AND SCIENCE:

    A BRIEF HISTORICAL STUDY ON DARWINISM AND THE OLD PRINCETON THEOLOGIANS

    ABSTRAK: Richard Dawkins menyatakan secara terbuka bahwa dirinya sangat menentang agama karena agama menghancurkan usaha-usaha ilmiah. Anggapan semacam ini bukanlah suatu hal yang baru. Sejak akhir abad ke-19 lahir suatu tesis yang menyatakan bahwa kekristenan dan ilmu pengetahuan adalah dua kubu yang saling bermusuhan. Walaupun tesis ini sudah dianggap tidak memadai, sayangnya banyak orang Kristen masih memegang pandangan ini. Pada kenyataannya, progress Darwinisme di Amerika Serikat juga mendapat dukungan dari ilmuwan Kristen. Dan ketika kita mempelajari teolog-teolog Old Princeton maka kita dapati bahwa mereka memiliki sikap yang berbeda terhadap ilmu pengetahuan. Di saat di mana mereka menghadapi tekanan atas perkembangan ilmu pengetahuan (dalam hal ini evolusi), justru mereka tidak segan menerima fakta dari evolusi walaupun mereka menolak interpretasi mekanistik dan naturalistik Darwinisme atas fakta tersebut. Teolog-teolog Old Princeton memberikan contoh bagaimana seorang Kristen harus mengambil sikap terhadap ilmu pengetahuan. Kaum injili di Indonesia dapat belajar banyak dari sejarah dan tradisi mereka. KATA KUNCI: Charles Hodge, Archibald Alexander Hodge, Benjamin Breckinridge Warfield, John Gresham Machen, Old Princeton, evolusi, teistik evolusi, Darwinisme.

    ABSTRACT: Richard Dawkins openly declares that he is strongly against religion since religion destroys scientific works. This assumption is not something new. Since the end of the 19 th century there was a development of a thesis that claims Christinity and science are two antagonistic poles. Although this thesis is now inadequate, many Christians are still holding on to this view. In reality, the development of Darwinism in the United States is also supported by Christians scientist. When we study Old Princeton theologians we find that they have different attitude about science. When they face pressures on the development of science (in this case evolution), they actually are not reticent in accepting the fact of evolution although they reject mechanistic and naturalistic interpretation of Darwinism upon those facts. Old Princeton theologians give examples on how a Christian should take a stand on science. Evangelicals in Indonesia can learn a lot form their history and tradition.KEYWORDS: Charles Hodge, Archibald Alexander Hodge, Benjamin Breckinridge Warfield, John Gresham Machen, Old Princeton, evolution,, theistic evolution, Darwinism.

     


     

    Binsar A. Hutabarat: Reformed Center for Religion and Society (RCRS)

    ISU AGAMA DALAM SISDIKNAS N0 20 TAHUN 2003: MENINJAU KEMBALI JALAN DEMOKRASI PENDIDIKAN NASIONAL

     

    ABSTRACT:  This article discusses religious issues and its implementation in the enactment of the National Education System Law (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional or Sisdiknas Law) No. 20 of 2003. The presence of the Sisdiknas 2003 can not be separated from the power struggles that occur at the time. The ideological debate among the Indonesian elite had not ended and caused the crisis management education in Indonesia. As a result, the mobilization of educational resources to achieve the educational goals met some obstacles; one of them is a on private education, especially those established by religious institutions. Political education in Indonesia is still dominated by the interests of the group. Consequently the national education law has not appreciated the diversity of Indonesia, and has not become the property of all individuals and groups. KEYWORDS:  national education system (sisdiknas), religious education, democracy education

    ABSTRAK: Tulisan ini akanmembahas isu agama yang hadir pada saat penetapan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No 20 Tahun 2003, dan juga implementasinya. Kehadiran Sisdiknas 2003 ternyata tidak dapat dilepaskan dari pergulatan kekuasaan yang terjadi pada saat itu.  Belum selesainya perdebatan ideologi di kalangan elit Indonesia itu menyebabkan terjadinya krisis manajemen  pendidikan Indonesia. Akibatnya mobilisasi sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan mengalami hambatan, salah satunya adalah masalah pendidikan swasta, khususnya yang didirikan lembaga agama. Politik pendidikan Indonesia masih dikuasai kepentingan kelompok., Akibatnya undang-undang pendidikan nasional belum menghargai kemajemukan bangsa Indonesia, dan belum menjadi milik semua individu dan kelompok. KATA KUNCI: sistem pendidikan nasional, pendidikan agama,  pendidikan demokrasi


    Martin Lukito Sinaga: Sekolah Tinggi Teologi Jakarta

    UMAT KRISTIANI DAN POLITIK DI INDONESIA: DARI POLITIK MINORITAS KE POLITIK PLURALISME

     ABSTRACT: Theological attitude and political position of Christian in Indonesia is ambivalent, wich cause these people to be cornered as minority parasite. This situation needs to be adressed, and deeper understanding of Reformed heritage and Sam Ratulangi's struggle in the dire era of Indonesian birth in 1945 can inspire a new mode of theology and Indonesian Christian political presence today. In this light, the strategic direction of Christian politics lies in the pluralism political movement. KEYWORDS: incognito, civil obedience, minority politics, majoririanism, politics of citizenship pluralitiy.

    ABSTRAK: Sikap teologis dan posisi politis umat kristiani di Indonesia tampak samar-samar, dan keadaan ini menciptakan mudahnya ia dipojokkan sebagai benalu minoritas. Keadaan ini perlu diatasi. Dan pendalaman warisan Reformasi serta pergulatan Sam Ratulangi di era genting kelahiran Indonesia tahun 1945 itu akan memberi inspirasi bagi modus baru teologi dan kehadiran politis umat Kristen Indonesia saat ini. Dalam terang itu maka arah strategis politik Kristen ada pada  gerakan politik pluralisme. KATA KUNCI: incognito, ketaatan sipil, politik minoritas, mayoritarianisme, politik pluralisme kewarganegaraan.

     


    Togardo Siburian: Sekolah Tinggi Teologi Bandung

    MANUSIA, AGAMA DAN MASYARAKAT: SUATU WACANA MENUJU DIALOG MULTI-PERADABAN GLOBAL

    ABSTRACT: This article tries to foster a multi-civilization dialogue to religiuos society that faces humanity crisis due to extrimism. Study through library research found that there is an axiom that religion and society is a neccessery in human life. In reality these two dimensions is closely related and may resulted in sharp conflicts between culture and civilization. Inter-religious  studies, including inter-religion dialogue, are developed to overcome these conflicts. Unfortunately, the differences in comparative religions study are widened, although in the hazy form such as multi-culturalism ideas wich contain interreligious aspect. The ideas of multi-culturalism in the intra and inter-religion dialogue become an important principle, since it looks upon One God as a source of religious existence in human. It is neccessery to exceep the multi-religion principe wich deals with others factors such as race, culture, social, politics, economy, technology, and education of modern person. An innovative concept is needed that combines all existing elements in globa multi-civilization dialogue, by considering global factors such as human rights, democracy, civil society, and world ethics. This universal multi-civilization concept can be declared as discourse to overcome crises today comprehensively. KEYWORDS: human, society, inter-religion, global, civilization, dialogue, multi-civilization, present.

    ABSTRAK:  Tulisan ini mencoba untuk mewacanakan dialog multi peradaban pada masyarakat agama yang sedang mengalami krisis kemanusiaan global karena ekstremisme.  Kajian melalui riset pustaka, dengan aksioma bahwa agama dan masyarakat adalah keniscayaan dalam kehidupan manusia.  Dalam aktualisasinya kedua dimensi kehidupan ini saling terkait erat dan berkonsekuensi munculnya konflik tajam antar kultur dan peradaban. Studi interreligius dikembangkan bahkan sampai pada dialog lintas agama dirancang untuk mengatasi konflik ini, sayangnya perbedaan semakin dipertajam pada studi bersifat perbandingan agama-agama, walaupun dalam bentuk samar seperti gagasan multikulturalisme yang di dalamnya ada aspek interreligius. Gagasan multi religionisme dalam dialog antar dan lintas agama menjadi suatu prinsip penting, karena melihat Allah yang satu sebagai sumber eksistensi agama pada manusia. Ternyata dirasakan harus melampaui prinsip multi agama yang menyangkut faktor-faktor lain seperti ras, budaya, sosial, politik, ekonomi, teknologi, pendidikan manusia modern. Untuk itu diperlukan konsep inovatif yang menggabungkan segala unsur yang ada dalam dialog multi peradaban dunia dengan menimbang faktor global: HAM, demokrasi, masyarakat sipil dan etika dunia. Konsep multi sipilisasi universal ini dapat dicanangkan sebagai wacana untuk mengatasi krisis masa kini secara komprehensif. KATA KUNCI: manusia, masyarakat, krisis, lintas-agama, dunia, peradaban, dialog, multi-peradaban, masakini 

     

    Sri Suwartiningsih dan David Samiyono, Universitas Kristen Satyawacana, Salatiga

    KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS  DALAM MEMPERTAHANKAN HARMONI SOSIAL

    ABSTRACT: Being a pluralist community, Nias consists of not only the Nias ethnic group but also other ethnic groups, such as Tionghoa (Chinese), Padang, Batak and Javanese. Social harmony within the community is like no other ever found in other regions across Indonesia. Indeed, social harmony amongst the Nias community has been a very much interesting social fact for research and analysis. Has some sort of local wisdom been exercised as a social capital to create the social harmony within the life of this religious-pluralist community? A research on this was conducted in Kota Gunungsitoli by applying the descriptive-qualitative research. The research shows that their local wisdom of Banua dan fatalifusöta, Emali dome si so ba lala, ono luo na so yomo, Sebua ta’ide’ide’ö, side’ide’ide mutayaigöand the fact that religious communites in this region have strong understanding and emphasize on their religious values are matters that heavily influence both the creation and the preservation of the social harmony within the community. KEYWORDS: social-harmony, religious pluralism, cultural diversity, Nias, banua dan fatalifusöta

    ABSTRAK: Masyarakat Nias adalah masyarakat plural yang tidak hanya terdiri dari suku Nias saja, tetapi juga terdiri dari suku-suku bangsa lainnya, seperti Tionghoa, Padang, Batak dan Jawa. Harmoni sosial yang telah tercipta dalam masyarakat Nias ini telah menjadikannya berbeda dari beberapa masyarakat di daerah-daerah lain di Indonesia. Harmoni sosial yang tercipta dalam komunitas masyarakat Nias telah menjadi sebuah fakta sosial yang layak untuk dianalisis dan diteliti. Upaya harmoni apa yang dilakukan oleh  masyarakat Nias yang agamis-pluralistik ini yang menjadi modal dasar bagi  terciptanya harmoni sosial tersebut? Penelitian  dilakukan di Kota Gunungsitoli dengan pendekatan penelitian deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa  kearifan lokal: Banua dan fatalifusöta,  Emali dome si so ba lala, ono luo na so yomo Sebua ta’ide’ide’ö, side’ide’ide mutayaigö dan  pemahaman dan penekanan nilai-nilai keagamaan yang kuat bagi pemeluk-pemeluknya yang agamis-pluralistik memiliki hubungan yang sangat erat terhadap terciptanya dan terpeliharanya harmoni sosial yang ada di dalamnya.  KATA KUNCI: harmoni sosial, pluralisme agama, perbedaan budaya, Nias, banua dan fatalifusöta

     

     

     


    Download

  • Societas Dei Vol.03, No.2, Oktober 2016

    Dalam jurnal Societas Dei volume 3, No.2, Oktober 2016 ini, ada lima artikel dari lima penulis.

    Berikut judul-judul artikel berserta nama-nama penulisnya.

    1) The Relevance of God's Covenant for a Reformed Theology of Religion (Dirk Griffioen, dari Utrecht Mission)

    2) Menuju Kesetaraan dalam Beragama yang Berbudaya: Refleksi Seminarian Injili (Togardo Siburian, STT Bandung)

    3) Islam, Radikalisme dan Deradikalisasi Berbasis Pancasila (Syaiful Arif, peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D)

    4) Menghidupi Kesejatian Agama: Tawaran yang Menggugat Eksistensi Agama sebagai Usaha Partisipatif dalam Pembangunan Indonesia (Edy Syahputra Sihombing, mahasiswa tingkat magister Universitas Katolik Parahyangan Bandung)

    5) Kesetaraan dan Perbedaan Laki-laki dan Perempuan: Kritik terhadap Gerakan Feminisme (Lina Gunawan, STT Reformed Injili Internasional, Jakarta)

     


    Download

  • Societas Dei Vol. 03, No. 1, April 2016

     

    Jurnal Societas Dei, volume 3, No. 1, April 2016 ini, memuat enam artikel. Artikel pertama yang ditulis berdasarkan penelitian lapangan, berjudul: “Tingkat Toleransi Antaragama di Masyarakat Indonesia”, oleh dua peneliti dari Reformed Center for Religion and Society (RCRS), yakni: Binsar A. Hutabarat  & H. Hans Panjaitan.

    Artikel kedua: “Calvinisme Dan Ilmu Pengetahuan: Suatu Tinjauan Filosofis terhadap Pemikiran Abraham Kuyper dan Implikasinya pada Etika Ilmu Pengetahuan” ditulis oleh Antonius Steven Un, dosen Sekolah Tinggi Teologi Reformed Injili Internasional (STTRII).

    Artikel ketiga berjudul: “Kemampuan Pengambilan Keputusan Etis bagi Para Peserta Didik Pendidikan Agama Kristen” ditulis oleh Amos Winarto Oei, dari  STT Aletheia, Lawang, Jawa Timur.

    Artikel keempat: “Music-makers and Reformed Theology”, karya Jahdiel N. Perez, mahasiswa Filsafat dan Teologi Kristen, Harvard Divinity School.

    Kemudian artikel kelima membahas “Universalisme Paulus Menurut Alain Badiou: Uraian dan Tanggapan”, oleh Yasintus T. Runesi, dari  Departemen Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Akhirnya artikel keenam membicarakan “Kasus  Pernikahan Sejenis dalam Perspektif Hukum Moral John Calvin”, tulisan  Imelda Ginting dari  STTRII.



    Download

  • Societas Dei Vol. 02, No.2, Oktober 2015

    Judul artikel dan nama penulis: 1) Misi Kristen di Indonesia: Kesaksian Kristen Protestan (Benyamin F. Intan); 2) The Sharia-based Understanding of Religious Freedom and Women's Rights in Conflict with the Secular Constitutional State (Christine Schirrmacher); 3) Pendapat Pimpinan-pimpinan Gereja di Bekasi tentang Izin Pendirian Rumah Ibadah dalam Peraturan Bersama Menteri Tahun 2006 (Binsar A. Hutabarat); 4) Kontribusi Pemikiran Egbert Schuurman mengenai Permasalahan dan Solusi Teknologi Modern (Adrian Jonathan); 5) The Theology of Death in Cantata BWV 106 by J.S Bach: A Critical Study (Yakub Kartawidjaja)


    Download

  • Societas Dei Vol. 01, No.2, April 2015

    Judul Artikel dan nama penulis: 1) From America to the World: Protestant Christianity's Creation of Religious Liberty (Peter A. Lillback); 2) Agama di Ruang Publik Politik (M. Dawam Rahardjo); 3) Perda Manokwari Kota Injil: Makna dan Konsekuensi bagi Gereja-gereja di Indonesia (Binsar A. Hutabarat); 4) Kristen dan Kenaifan Politik: Kritik atas Sikap Politik PGPI dalam Pilpres 2014 (Victor Silaen); 5) Prinsip Etika Global untuk Kota Modern Multikultural (Togardo Siburian); 6) Penanaman Toleransi Beragama pada Anak Melalui Pendidikan (Nurhattati Fuad); 7) Hospitalitas sebagai Upaya Mencegah Kekerasan dan Memelihara Kerukunan dalam Relasi Islam - Kristen di Indonesia (Yohanes K. Susanta)

     


    Download