Anda berada di :

Artikel > Urgensinya Pendidikan Karakter

Urgensinya Pendidikan Karakter

Investor Daily Indonesia, 8 Mei 2011
Binsar A Hutabarat

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2011 menggulirkan tema Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Nasional. Pilihan tema ini diharapkan bisa menjadi solusi dan dapat meneguhkan kehidupan bangsa Indonesia yang sedang mengalami darurat karakter.

 

Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh menyatakan, pendidikan karakter akan semakin dikuatkan, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi. Implementasi ketetapan tersebut dimulai sejak tahun ajaran baru 2011/2012, yang dimulai Agustus nanti.

 

Gerakan pendidikan karakter yang dicanangkan Mohammad Nuh tersebut diharapkan dapat meneguhkan kehidupan bangsa ini yang sedang mengalami darurat karakter yang amat memperihatinkan. Karena itu, gerakan tersebut patut didukung oleh semua elemen bangsa demi kelangsungan negara yang kita cintai ini.

 

Darurat Karakter

Runtuhnya sebuah rezim sebagaimana terjadi pada lengsernya penguasa Orde Baru, mungkin hanya mengakibatkan Indonesia kehilangan penguasa sesaat. Begitu pula kejatuhan ekonomi mungkin hanya mengakibatkan keterpurukan ekonomi sesaat.

 

Namun, apabila sebuah bangsa mengalami kejatuhan karakter, sangat boleh jadi bangsa tersebut akan kehilangan segala-galanya. Mari kita tengok negara/bangsa Jepang. Boleh saja negeri ini luluh lantak ketika sebuah sebuah bom dahsyat dijatuhkan oleh sekutu pada Perang Dunia Ke-2. Namun, karakter bangsa Jepang yang kuat, dengan memegang teguh nilai-nilai budaya bangsa dan tetap mempertahankan etos kepahlawanannya, telah mengantar Jepang tampil sebagai bangsa yang besar dan maju.

 

Karakter memang menjadi kunci penting bagi tampilnya Jepang sebagai bangsa besar. Bahkan ketika bencana gempa dan tsunami dahsyat memorakporanda negeri itu, bangsa Jepang tetap tegar menerima tragedi yang memilukan itu. Mata dunia bahkan dibuat terbelalak ketika melihat respons bangsa Jepang dalam menghadapi bencana.

 

Karakter bangsa Jepang semakin terlihat berkilau, justru ketika bencana besar datang menerpa. Karakter seperti itu menjadi barang sangat mahal di negeri kita. Indonesia kini justru sedang menghadapi darurat karakter. Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) masih saja merajalela, meski Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah bekerja keras dan perangkat undang-undang antikorupsi sudah dibuat.

 

Terus terjadinya tawuran antarwarga, antarsiswa, serta kekerasan dalam rumah tangga hingga kekerasan terhadap anak, semakin meneguhkan bahwa karakter bangsa ini sedang tercabik-cabik. Keburukan merajalela, sedang kebenaran sulit untuk mendapatkan tempatnya.

 

Soal lain lagi, yakni masyarakat negeri ini enggan membeli hasil karya anak bangsanya sendiri, padahal banyak orang di negeri ini hidup dalam kemiskinan absolut. Sungguh ironis, 80% pasar tekstil dikuasai asing, 80% pasar farmasi dan 92% industri hampir seluruhnya dikuasai asing. Mainan anak-anak pun didominasi oleh asing.

 

Meski sumber daya alam yang dimiliki Indonesia sangat berlimpah, Indonesia tetap tak mampu lebih maju dari Jepang yang pernah luluh lantak. Kejatuhan karakter jauh lebih parah dibandingkan kejatuhan ekonomi, kejatuhan karakter bukan hanya berdampak pada kehidupan ekonomi bangsa, tetapi mengancam kelangsungan bangsa tersebut.

 

Strategi Jangka Panjang

Itulah makanya pendidikan karakter menjadi sebuah keniscayaan bagi bangsa ini. Tanpa pendidikan karakter, keburukan akan jauh lebih mudah berkembang dibandingkan kebaikan, kegagalan akan lebih mendominasi dibandingkan dengan keberhasilan, dan seterusnya.

 

Ironisnya, pendidikan di negeri ini selama ini lebih mengedepankan penguasaan aspek keilmuan, kecerdasan, dan mengabaikan pendidikan karakter. Pengetahuan tentang kaidah moral yang didapatkan dalam pendidikan moral atau etika di sekolah-sekolah saat ini — seperti dikatakan Mar vin Berkowitz (1998) — kebanyakan tidak pernah memperhatikan bagaimana pendidikan itu berdampak terhadap perilaku seseorang. Itulah cacat terbesar pendidikan di negeri kita yang membuat pendidikan gagal menjadi benteng terhadap radikalisme.

 

Pendidikan mestinya mampu menghadirkan generasi yang berkarakter kuat, sebagaimana terjadi di Jepang. Menurut Aristoteles, sebuah masyarakat yang tidak memperhatikan pentingnya penanaman nilai-nilai good habits sangat boleh jadi akan membuat masyarakatnya terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan buruk. Bangsa yang mengabaikan pendidikan karakter berarti mengabaikan pentingnya perjuangan untuk menumbuh kembangkan kebaikan.

 

Inilah yang membuat bangsa tersebut tidak memiliki masa depan. Jadi, ketika kita berbicara mengenai pendidikan karakter bangsa Indonesia, itu berarti sebuah proses penanaman nilai-nilai karakter bangsa kepada anak didik, yaitu nilai-nilai karakter bangsa Indonesia yang terkandung dalam Pancasila. Dengan demikian tujuan pendidikan karakter nasional adalah menjadikan siswa sebagai manusia Indonesia yang berkarakter Pancasilais.

 

Karena itu, sangatlah tidak cukup menghafal kelima sila dalam Pancasila. Siswa harus memahami kelima sila itu dengan baik dan juga didorong untuk menghidupinya. Keteladanan dari para guru, dalam hal ini, memiliki posisi yang penting. Selain keteladanan dari para guru, peran orangtua dan pemerintah jelas tak bisa diabaikan.

 

Karakter kader bangsa itu bisa terbentuk dengan baik jika ketiga lembaga tersebut bekerja bersama- sama untuk memberikan iklim yang kondusif bagi terbentuknya karakter anak bangsa yang andal. Karena itu, sudah menjadi tanggung jawab semua elemen bangsa untuk menebarkan pendidikan karakter, dan itu dilakukan sejak usia dini dan terus menerus. Tanpa usaha yang terus menerus untuk mengembangkan pendidikan karakter, kita akan kembali terperangkap menjadi negara gagal.


Binsar A Hutabarat, Penulis adalah peneliti pada Reformed Center for Religion and Society (RCRS)