Anda berada di :

Artikel > Krisis Global, Berkah Terselubung

Krisis Global, Berkah Terselubung

Investor Daily, 7 Oktober 2011
Tandean Rustandy

Perekonomian Indonesia tetap tumbuh impresif justru ketika perekonomian Amerika Serikat dan Eropa sedang digoyang krisis. Ini justru menjadi  berkah terselubung (blessing in disguise) bagi Indonesia dan sebuah kesempatan untuk memperbaiki diri.

 

Pada semester I-2011, perekonomian RI tumbuh 6,4%, dan Bank Pembangunan Asia (ADB) memprediksi perekonomian Indonesia bakal menjadi salah satu yang paling stabil di tingkat regional. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan lembaga keuangan menunjukkan sepanjang semester I-2011, investor asing mendominasi kepemilikan saham yang tersimpan di kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dengan nilai Rp 1.313 triliun, sekitar 63,42% dari semua saham yang ditransaksikan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

 

Jika utang AS mencapai 96% dari produk domestik bruto (PDB), utang Indonesia hanya 26,8% saja dari PDB (US$ 200 miliar). Ini dinilai masih berkontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi, mengingat batas aman rasio utang terhadap PDB adalah 60% seperti yang diatur dalam UU No 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Rasio utang yang tinggi di negara Eropa telah mengakibatkan tingkat pengangguran sangat tinggi. Spanyol memiliki tingkat pengangguran terbanyak, yaitu 20% periode Januari-Agustus 2010.

 

Pada periode yang sama, pengangguran di Perancis sebesar 9,8%, dan Italia 8,4%. Sementara itu, di Indonesia data   pengangguran dari pemerintah hingga Februari 2011 sebesar 6,8%. Dibandingkan dengan Negara-negara Asean lainnya, peringkat pengangguran di Indonesia masih berada di posisi keenam hingga kuartal I-2011. Tingkat pengangguran Indonesia masih jauh lebih tinggi dari Brunei, Malaysia, Vietnam, Singapura, dan Thailand.

 

Investasi ke Daerah

Pengangguran adalah masalah klasik setiap negara. Persoalan ini juga membuat kita harus terus waspada. Kita harus cerdik memanfaatkan momentum derasnya aliran dana asing yang masuk ke Indonesia sejak 2010. Hankook, produsen ban terbesar asal Korea Selatan, sedang membangun pabrik di Cikarang, Jawa Barat, dengan nilai investasi US$ 1,1 miliar.

 

Selain itu, ada Lotte Group di hipermarket, Pohang Steel Corporation (Posco) yang menggandeng Krakatau Steel untuk membangun pabrik pelat baja, dan ada pula prinsipal mobil Nissan Motor yang akan menginvestasikan dana sekitar US$ 312,5 juta untuk berinvestasi di Indonesia.

 

Sektor industri manufaktur memang harus diprioritaskan, karena mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Dengan investasi besar di sektor ini, maka target Kementerian Perindustrian penyerapan tenaga kerja sebesar 14,9 juta tenaga kerja tahun 2011 bisa tercapai. Hal tersebut juga akan meningkatkan daya saing industri nasional.

 

Namun, dukungan pemerintah pusat maupun daerah sangat minimal. Dalam 10 tahun terakhir, pertumbuhan industri manufaktur cenderung bergerak lamban, bahkan pernah mengalami gejala deindustrialisasi pada tahun 2005-2006.

 

Pertumbuhan yang rendah ini disebabkan oleh kekurangan energi dan infrastruktur yang berada di bawah standar. Infrastruktur di daerah yang tidak memadai dan pelayanan yang masih di bawah standar membuat investor enggan masuk ke sana. Akibatnya, desa tidak pernah berkembang dan lapangan pekerjaan baru pun minim tercipta. Ini adalah lingkaran setan yang tidak pernah bisa diselesaikan. Pada sisi lain, pengusaha masih lebih fokus untuk berinvestasi di sektorsektor yang cepat mendapatkan keuntungan yang notabene berada di kotakota besar. Ini memang tidak salah.

 

Namun, ketika sudah mendapat banyak keuntungan, kenapa tidak berinvestasi ke daerah? Pengusaha perlu ikut ambil bagian untuk berkorban. Jika daerah berkembang, kesempatan kerja pun bisa tercipta, tingkat urbanisasi bisa ditekan, dan kesejahteraan rakyat akan lebih merata. Bagi pengusaha, berinvestasi di daerah dan membangun pabrik di sana akan mendatangkan keuntungan jangka panjang, khususnya pada saat Lebaran, tidak perlu dipusingkan dengan distribusi barang yang dilarang beroperasi dari H-4 hingga H+1 Lebaran.

 

Jika pengusaha memiliki pabrik di daerah, distribusi barang ke daerah tidak akan terhambat dan biaya distribusi akan turun, suplai barang di pasar tidak akan kekurangan.  Dengan demikian, harga-harga tidak akan melambung tinggi seperti yang biasa terjadi saat Lebaran dan masyarakat juga pasti diuntungkan.

 

Sementara itu, bagi para pelaku urbanisasi, meninggalkan kampong halaman juga bukan hal mudah. Mereka harus meninggalkan keluarga, bahkan kadang anak-anak yang masih kecil. Nasib mereka bekerja di kota juga tidak jelas. Para pencari kerja perlu meningkatkan ketrampilan khusus. Janganlah hanya mengandalkan otot dan modal nekat.

 

Sebenarnya potensi di daerah bukannya tidak ada, tetapi kurang disosialisasikan. Penduduk di desa lebih banyak di-brainwash oleh teman maupun saudara mereka yang berpenampilan “kota” pada waktu berlebaran di desa.

 

Tanggung Jawab Bersama

Memang diperlukan pengorbanan dari para pengusaha dan kerendahan hati pemerintah serta kesadaran dari para pencari pekerja. Bagaimanapun kemajuan negeri ini adalah tanggung jawab moral semua pihak. Setiap dana dan sumber daya harus dialokasikan dengan tepat untuk kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang dan berkelanjutan.

 

Pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengusaha, dan pencari kerja harus bersinergi untuk mengatasi masalah pengangguran ini. Pemerintah harus berkomitmen membangun infrastruktur di daerah, sehingga kondusif untuk berinvestasi. Pengusaha juga juga harus bersedia berinvestasi di daerah dan membangun pabrik-pabrik untuk menciptakan kesempatan kerja di sana, para pencari kerja harus bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan di daerahnya.

 

Dengan demikian, masyarakat daerah tidak lagi harus lari ke kota untuk mencari pekerjaan. Seperti kata Voltaire, penulis dan filsuf asal Prancis, “Bekerja memisahkan kita dari tiga hal buruk: kebosanan, kebiasaan buruk, dan kemiskinan.”


Tandean Rustandy, Penulis adalah Peneliti Senior Reformed Center for Religion and Society, Alumnus MBA Booth School of Business, University of Chicago