Anda berada di :

Artikel > Ekonomi 2012, Antara Harapan dan Kenyataan

Ekonomi 2012, Antara Harapan dan Kenyataan

Investor Daily, 10 Januari 2012
Tandean Rustandy

Indonesia baru saja menyandang status investment grade BBB-, naik satu tingkat dari BB+. Hal ini mengindikasikan bahwa perkonomian Indonesia sehat untuk investasi. Namun, kita jangan terlalu cepat berbangga hati dan takabur. Berbagai kalangan, baik dari pasar modal dan perbankan mengatakan kondisi makro ekonomi Indonesia baik dan stabil. Tapi, pada kenyataannya tidak demikian. Lihat saja pasokan listrik, gas, dan kondisi jalan-jalan yang masih sangat memprihatinkan. Infrastruktur vital ini sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan perekonomian.

 

Sebagai contoh, Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Perusahaan Gas Negara (PGN) yang belakangan sibuk berbenah diri. Secara kuantitas ketersediaannya sudah cukup baik, tapi kualitas pelayanannya masih harus dibenahi. Pemadaman listrik di kawasan industri bukan saja merugikan pengusaha, tapi juga pemerintah dan berimbas ke masyarakat. Apalagi tarif listrik indusri pada awal Juni 2010 naik dari Rp 658,5/kWh menjadi Rp 1.020/kWh.

 

Dengan kenaikan tersebut seharusnya kualitas pelayanan juga ikut meningkat.Tapi, realitasnya, pelayanannya malah semakin mengecewakan, dengan makin meningkatnya kasus pemadaman. Di Gresik, misalnya, kasus pemadaman terjadi sebanyak18 kali pada 2010 dengan total sekitar 14,3 jam dan tahun 2011 sebanyak 19 kali dengan total sekitar 18,75 jam. Di kawasan industri Pasar Kemis, Tangerang, pada 2010 terjadi 18 kali pemadaman dengan total sekitar 14,3 jam. Tahun 2011 menjadi 19 kali dengan total sekitar 14,75 jam. Sementara itu, di kawasan industri Serang, tahun 2010 terjadi sebanyak 21 kali, dan naik menjadi 27 kali pada 2011.

 

Jika hanya perumahan yang mengalami pemadaman tiba-tiba, kerugiannya tidak besar. Namun, bagaimana dengan pabrik-pabrik yang beroperasi 24 jam? Kerugian yang ditanggung akan sangat besar. Masalah gas juga memberikan dampak sangat besar bagi pertumbuhan industri. Harga gas terus meningkat. Pada April 2011 harga gas naik sekitar 15%, September 2011 harga gas di daerah Sumatera Utara naik 63%, dan di Jawa Timur naik rata-rata 36%. Walaupun sudah ada kenaikan harga tapi persediaan dan tekanan gas tetap kurang stabil, sehingga mengakibatkan turunnya kuantitas dan kualitas produksi. Presiden maupun menteri perindustrian mengimbau agar setiap industri melakukan inovasi dan efisiensi. Tapi tanpa ada perbaikan pasokan listrik, gas, dan sarana jalan, bagaimanapun kita sulit berkompetisi.

 

Reformasi Radikal
Ada baiknya jika manajemen PLN, PGN, dan BUMN lainnya belajar dari kasus turn-around Garuda. Garuda harus sampai berdarah-darah dalam melaksanakan reformasinya. Tidak sedikit pengorbanan yang dilakukan, meskipun merugi. Garuda tidak bisa seenaknya menaikkan harga tiket hanya lantaran naiknya biaya-biaya karena adanya persaingan. Setelah perjuangan berat, tahun 2010 Garuda berhasil mendapat predikat sebagai ‘The World’s Most Improve Airplane’ dari Majalah Skytrax. Hasil perjuangannya bukan saja memberi keuntungan ekonomi tapi juga meningkatkan citra bangsa Indonesia.

 

Seluruh jajaran PLN, PGN, dan BUMN harus melakukan reformasi yang radikal. Tidak sedikit penanam modal asing (PMA) yang membutuhkan layanan PLN dan PGN. Jika kualitas pelayanan baik, mereka akan menjadi juru bicara di negara masing-masing, sehingga dapat menarik foreign direct investment yang sangat dibutuhkan sektor riil. Jika harga naik terus tanpa diikuti kualitas pelayanan, itu sama saja dengan mengabaikan imbauan presiden dan menteri perindustrian bahwa industri harus melakukan inovasi dan efisiensi.

 

Di Jakarta, kerugian ekonomi akibat kemacetan lalu lintas ditaksir Rp 12,8 triliun per tahun yang meliputi nilai waktu, biaya bahan bakar, dan ongkos kesehatan. Ini tidak efisien dan sangat merugikan. Pada waktu musim hujan, kualitas jalan dan jembatan yang pembangunannya kurang baik banyak yang rusak bahkan jembatan pun bisa rubuh.

 

Pengelolaan APBN pun masih belum baik. Penyerapan anggaran yang rendah dan menumpuk di akhir tahun masih menjadi lagu lama pemerintah pada 2011. Persentasi penyerapan belanja modal APBN 2010 hanya sebesar 84,49% dan di 2011 turun sebesar 76,5%. APBN yang tidak terserap merata sepanjang tahun, di akhir tahun dipakai secepatnya untuk dihabiskan.

 

Di akhir tahun juga banyak rekening pribadi pegawai negeri sipil (PNS) membengkak karena menampung dana anggaran. Seringkali dilakukan dengan alasan menyiasati sistem anggaran agar proyek-proyek dapat diselesaikan. Ini sangat memprihatinkan. Kurang seriusnya pemerintah dalam mengalokasikan anggaran mengindikasikan pemerintah belum menerapkan good corporate governance dengan baik,

 

Jika pemerintah saja belum efisien, bagaimana pengusaha-pengusaha bisa berkompetisi dengan produk-produk luar negeri yang relatif lebih murah? Bila dibandingkan dengan Singapura yang tidak memiliki sumber daya alam, kompetensi pengusaha kita masih kurang sehingga kita lebih sering mengekspor bahan mentah dengan harga jual yang rendah.

 

Moral dan Mentalitas

Komitmen pemerintah dan pengusaha melakukan efisiensi harus dipertanyakan. Konfusius mengatakan “a gentleman would be ashamed should his deeds not match his words” (Seorang pria sejati akan malu jika perbuatannya tidak sesuai dengan kata-katanya). Perlu kesadaran, kemauan, serta pengorbanan dari pemerintah dan pengusaha.

 

Jadi, kuncinya adalah moral dan mentalitas. Mentalitas dilayani masih begitu kental. Indonesia membutuhkan moral dan mental seorang gentleman yang selalu menuntut diri sendiri lebih daripada orang lain, tidak terlalu banyak berandai-andai dan banyak bicara, tapi action, action, dan action. Karakter gentleman inilah yang diperlukan bangsa ini, bukan little man! Kita harus menjadi teladan bagi orang lain. Terlebih lagi para pemimpin bangsa yang memimpin seluruh rakyat dan pengusaha harus menjadi contoh bagi karyawannya.

 

Indonesia membutuhkan figur pemimpin gentleman. Mari kita mulai dari diri kita masing-masing. A gentleman is one who puts more into the world than he takes out. (Seorang pria sejati adalah orang yang memberi lebih kepada dunia dari pada apa yang dia ambil)-George Bernard Shaw (1856-1950).


Tandean Rustandy, adalah Peneliti Senior Reformed Center for Religion and Society, Alumnus MBA Booth School of Business, University of Chicago