Anda berada di :

Beranda

Seminar & Kegiatan

Kontak

Reformed Center for Religion and Society

Perkantoran Plaza Pasifik B4, No 73-75
Jl. Raya Boulevard Barat
Kelapa Gading
Jakarta Utara 14240
Tel: +6221 - 4584 2220 / 4584 2221 / 4584 2223 / 4584 2224
Fax: +6221 - 4585 4062
Email: reformed.crs@gmail.com
Web: www.reformed-crs.org

Jurnal

Societas Dei Vol 05, No.1, April 2018

AMBIGUITAS DIFERENSIASI AGAMA DAN NEGARA DI INDONESIA

Binsar Antoni Hutabarat, Reformed Center for Religion and Society

ABSTRAK: Artikel yang berjudul “Ambiguitas Diferensiasi Agama dan Negara di Indonesia” ini fokus membahas mengenai bagaimana hubungan agama dan negara yang tidak saling menaklukkan. Pertama-tama dipaparkan mengenai riset-riset mutakhir mengenai hubungan agama dan negara, dan dasar teori yang mendasarinya, kemudian dipaparkan teori diferensiasi agama dan negara sebagai jalan tengah terbaik dari hubungan agama dan negara yang tidak saling menaklukkan. Setelah itu dipaparkan konsep diferensiasi  agama dan negara menurut Pancasila, dan ambiguitas yang terjadi terhadap kebijakan diferensiasi agama dan negara di Indonesia. Tulisan ini menemukan bahwa pembedaan agama dan negara menurut Pancasila memiliki dasar teori yang kuat, dan relevan untuk Indonesia. Hanya saja ambiguitas diferensiasi agama dan negara itu masih terjadi diskriminasi terhadap agama tertentu, dan masih berlangsung. KATA-KATA KUNCI: agama, negara, Pancasila, pembedaan agama dan negara.


 

TOLERANSI PASCAKONFLIK ANTARAGAMA DI TOBELO

H. Hans Panjaitan, Reformed Center for Religion and Society

ABSTRAK:  Artikel "Toleransi Pascakonflik Antaragama di Tobelo" ini akan mengukur tingkat toleransi beragama di Kabupaten Tobelo untuk melihat kondisi terkini terkait tingkat toleransi beragama di Tobelo. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk survei terhadap siswa sekolah menengah atas di Kabupaten Tobelo. Pendapat siswa Tobelo dapat menjadi alat ukur untuk melihat tingkat toleransi beragama di Tobelo. Temuan penelitian ini adalah: tingkat toleransi antaragama di Tobelo tinggi, namun berdasarkan data survei integrasi antar-kelompok masyarakat yang pernah terlibat konflik itu masih harus ditingkatkan untuk menumbuhkan rasa saling percaya antar-kelompok masyarakat yang berbeda agama. Karena itu saran penelitian ini adalah pemerintah daerah sepatutnya terus menumbuhkan jiwa dan semangat toleransi di antara pemeluk agama dengan misalnya, membangun komunitas-komunitas beragam agama, khususnya dalam lingkup pendidikan. KATA-KATA KUNCI: toleransi, konflik, agama, pendidikan toleransi, Tobelo.


FAKFAK SEBAGAI MODEL INTERAKSI DALAM KEHIDUPAN ANTARUMAT BERAGAMA

Daud Alfons Pandie, Dosen Program Pascasarjana STT Reformed Injili Internasional

ABSTRAK: Dalam konteks pluralitas agama di Indonesia, upaya mengembangkan studi tentang “kerukunan beragama” menjadi sangat penting. Sayangnya, studi tentang hal ini masih sangat langka. Sejak era reformasi informasi hasil penelitian yang berfokus pada aspek kerukunan antarumat beragama dengan pendekatan survei masih terasa kurang, dan popularitasnya lebih rendah dibanding dengan informasi penelitian yang terkait dengan konflik keagamaan. Tulisan ini adalah salah satu hasil upaya studi tentang kerukunan antarumat beragama dalam konteks masyarakat Fakfak di Provinsi Papua Barat. Kondisi objektif masyarakat Fakfak itu mencerminkan kesatuan realitas antara kemajemukan agama dengan tekad untuk bersatu antarorang per orang dan antarorang dan bumi tempat berpijak. Dari segi etnis dan budaya tidak banyak perbedaan, namun dari agama dan bahasa daerah dengan dialek ke dalam bentuk yang khas dari sejarah kepulauan itu, terlihat jelas realitas kemajemukan itu.  Untuk menyatukan masyarakat Fakfak Papua dengan kondisi sosial dan keagamaan seperti itu, mereka membuat  konsensus bersama untuk menciptakan suatu sistem budaya, yang disebut dengan istilah “satu tungku tiga batu”. Satu tungku tiga batu dipandang sebagai sistem budaya yang diabstrakkan dari peristiwa konkret, yang digunakan untuk memahami hal-hal hidup kebersamaan secara individu dan masyarakat. Kesatuan dalam sistem budaya masyarakat Fakfak ini berdaya rekat yang kuat. Apalagi kondisi masyarakat diwarnai sejarah masuknya tiga agama pada masa yang sama. Konsep tersebut mendasari pola pikir dan menetapkan integrasi sebagai kekuatan persaudaraan etnis Papua, walaupun agama berbeda.  Sistem budaya ini dianggap yang memberi arah dan orientasi kepada para warga masyarakat untuk menjalin solidaritas suku budaya yang sama, kerukunan, toleransi antar kelompok etnis, agama, dan sosial. Sistem budaya yang disebut satu tungku tiga batu dalam kehidupan masyarakat Fakfak tersebut sebagai wujud idiologi kebudayaan, dipandang penting dan bernilai sehingga dijadikan pedoman tingkah laku dalam kehidupan antarumat beragama. KATA-KATA KUNCI: satu tungku, tiga batu, interaksi, umat beragama.


 

KONSUMERISME: “PENJARA” BARU HAKIKAT MANUSIA?

Andreas Maurenis Putra, Alumni Teologi Filsafat Universtas Katolik Parahyangan, Bandung

ABSTRAK: Mengosumsi barang demi kebutuhan hidup merupakan hal yang wajar. Namun mengosumsi yang melewati batas sampai pada tahap pemborosan mesti dihindari. Dilema akan kebutuhan manusia dewasa ini menghadirkan fenomena baru dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup. Fenomena ini tidak lain adalah -dikenal luas oleh masyarakat- konsumerisme. Prosesnya ialah menggunakan barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan. Lantas, fenomena ini (konsumerisme) terus menerus menjadi salah satu tema sentral dalam era globalisasi ini. Sayangnya, kedashyatan pengaruh ideologi ini melengserkan nilai-nilai fundamental yang ada di dalam setiap individu. Konsumerisme mengilangkan kebermaknaan esensi dasariah yang ada dalam diri manusia. Manusia yang seharusnya ingat akan hakikat dirinya sebagai mahkluk sosial yang selalu terkoneksi satu dengan yang lain dalam kosmos, kini perlahan-lahan kehilangan makna itu. Dengan adanya pola pikir dan pola hidup konsumtif manusia seakan dipenjara dan teralienasi. Kualitas hidup bukan lagi diukur berdasar nilai kebermaknaannya untuk sesama dan alam sekitar namun diukur berdasar materi. Konsekuensi ini menjadi krisis fundamental yakni degradasi manusia yang hakiki. KATA-KATA KUNCI: konsumerisme, identitas, perilaku, penjara, kesadaran, makhluk sosial, makhluk ekologis, perawatan, kesederhanaan.


 

KEBIJAKAN  KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) DALAM PANDANGAN  THEORY OF JUSTICE JOHN RAWLS

Wadyo Pandapotan Pasaribu, Mahasiswa Program Pascasarjana STF Driyarkara

ABSTRAK:Artikel yang berjudul "Kebijakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dalam Pandangan Theory of Justice John Rawls" ini pertama-tama akan memaparkan kondisi perekonomian negara kita (Republik Indonesia) dalam analisis pakar-pakar ekonomi dan pandangan pemerintah terhadap situasi ekonomi yang sedang berjalan. Selanjutnya akan diuraikan rumusan kebijakan kredit usaha rakyat sebagai kebijakan ekonomi pemerintah Indonesia dalam upaya mengurangi angka ketimpangan ekonomi atau ketimpangan pendapatan dengan pemberian dana usaha kepada UMKM melalui program KUR. Kemudian dipaparkan prinsip  umum keadilan John Rawls terkait pareto optimality yang ketika di tingkat praksisnya berlaku keadilan distributif di mana masing-masing aktor akan memperoleh sesuai dengan kontribusinya dalam pasar. KATA-KATA KUNCI: kedit usaha rakyat, keadilan distributif, John Rawls

 

 

 

 

 



 

Selengkapnya

Artikel Terbaru

Benahi Bangsa Melalui Pendidikan Inovatif

Investor Daily 28 Okt 2015
Tandean Rustandy

Tanpa penguasaan pengetahuan yang terintegrasi, kita tidak mampu mengolah kekayaan alam yang berlimpah untuk pembangunan bangsa yang berkelanjutan. Dibandingkan negara-negara Asean lainnya, pendidikan di negara kita jauh tertinggal. Ditambah dengan akses pendidikan yang belum merata. Ini kesalahan p

Selengkapnya>>

Selengkapnya